Wowok Merianto Bangun Rumah Using Terbesar

38
Wowok Merianto. (foto/bb/ist)

Glagah (BisnisBanyuwangi.com) – MENGENAL Banyuwangi, tak akan melewatkan salah satu aset budaya yang masih dipertahankan. Salah satunya, rumah adat Using. Rumah asli Banyuwangi ini memiliki banyak keistimewaan filosofi dan keunikan  konstruksinya. Kini, Banyuwangi memiliki rumah adat Using terbesar yang dibangun di Jalan Perkebunan Kalibendo, KM.5, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah. Adalah putra asli Banyuwangi, Wowok Merianto yang mencetuskan bangunan tersebut. Rumah ini sekaligus menjadi warung makan yang nyaman dan indah.

Lebih dari separuh perjalanan hidup Wowok Merianto dihabiskan di luar Banyuwangi. Kebanyakan di kota besar, Surabaya, Pekanbaru, dan Jakarta. Namun, jiwa dan pemikirannya melestarikan dan mengangkat potensi Banyuwangi tak pernah surut. Pria 54 tahun ini selalu bermimpi bisa melestarikan berbagai kekayaan tanah kelahirannya. Mulai dari seni budaya, kearifan lokal, makanan khas ‘Wong Using’ dan pernak – pernik berkaitan dengan Banyuwangi.

Maklum, Wowok Merianto tumbuh dan dibesarkan di Banyuwangi, tepatnya di Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah. Sejak duduk di bangku SDN 1 Tamansuruh hingga SMA, ia dikenal sebagai siswa cerdas. Tak heran jika dirinya  selalu menjadi juara kelas di SD, SMP, maupun SMA/SMPPN Banyuwangi. Juga, menjadi lulusan tercepat ketika kuliah S1 Jurusan Teknik Elektro di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Begitu juga ketika kuliah S2 di Institut Teknologi Bandung (ITB). Gelar Magister Teknik Studi Pembangunan diraih dengan predikat  sangat istimewa (Cumlaude).

Dari prestasinya itu, ia mampu berkarir di salah satu  perusahaan energi berskala internasional. Pria yang hobi golf dan tenis ini juga kerap berkeliling dunia lantaran tugas dari perusahaan. Seperti,  ke Amerika Serikat, China, Korea, Singapura, Jerman dan Prancis. Bertugas ke luar negeri, sebagai engineer, pimpinan proyek, maupun menjalani pelatihan perusahan. Bahkan, sebagai presenter pada forum internasional dalam rangka operasional dan pengembangan perusahaan di bidang teknologi perminyakan/energi.

Dari sekian banyak perjalanan itulah, Wowok, panggilan akrabnya, memahami potensi Di setiap daerah. Dia pun semakin memantapkan hati jika Banyuwangi lebih banyak memiliki potensi yang layak dikembangkan, dilestarikan.

Salah satu aksi nyata pelestarian budaya Banyuwangi, Wowok mewujudkannya dengan membangun rumah adat using terbesar di Bumi Blambangan, akhir 2017. Lokasinya strategis, di area persawahan yang membentang seluas satu hektar lebih. Dalam rumah adat Using terbesar ini dikelilingi gasebo dan pondok. Seluruhnya bernuansa Using. Lokasinya,

di Dukuh Lemarang, Dusun Wonosari, Desa Tamansuruh, tempatnya dilahirkan. “ Konsep ini hasil pengalaman saya selama berkeliling dunia. Baik, dalam rangka belajar maupun bekerja,” kata Doktor jebolan Universitas Indonesia tersebut saat berbincang dengan Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Dijelaskan, rumah adat Using ini memiliki ukuran sangat besar. Ukuran panjang kayu penglarinya mencapai 13 meter. Seluruhnya mengusung kearifan lokal. Mulai dari saka atau tiang rumah yang memiliki filosofi bagian dari pasangan keluarga. Begitu juga dengan rangka atap atau dur yang memiliki arti keterbukaan dan kejujuran dalam keluarga. Seluruhnya terbuat dari bahan utama kayu, tanpa paku. Tidak hanya itu, reng yang melambangkan kedudukan orang tua dengan pemikiran jauh ke depan, seluruhnya terbuat dari kayu.

Menariknya lagi, rumah adat Using terbesar di Banyuwangi ini kokoh berdiri tepat di tepi sawah. Dikelilingi hamparan padi, membuat rumah adat Using ini makin terlihat asri. Meski tanpa tiang penunjang di tengah bangunan. Rumah adat Using ini, cocok  menjadi jujugan bagi akademisi dan praktisi budaya dan sejarah tentang rumah  adat Using. Di tengahnya terdapat restoran “ Waroeng Kemarang”, menyajikan aneka kuliner khas Using. Mulai pecel pitik, nasi tempong hingga jajanan khas.

Menurut Wowok, selain untuk edukasi,  rumah adat Using terbesar ini menjadi sentra kuliner khas Banyuwangi. Termasuk,  berbagai kegiatan kesenian tradisional secara live. Bahkan bisa menikmati “Paju Gandrung” setiap Sabtu malam.  Lalu, edukasi pertanian, sembari menikmati panorama alam pedesaan nan asri. “ Supaya pihak luar bisa tahu, bahwa Banyuwangi merupakan miniatur Indonesia. Semua ada disini, di rumah adat Using terbesar ini,” jelasnya. Selain melestarikan budaya Using, Wowok juga menularkan ilmu pendidikannya dengan mengajar di salah satu perguruan tinggi di Banyuwangi.

Keberhasilan Wowok dalam jenjang karir dan usaha juga dibarengi dengan keberhasilan dalam membina keluarga. Dari sang istri, telah dikaruniai 2 anak. Anak pertama lulus S1 dan S2 di ITB. Kini, menjadi pengusaha restoran nasional. Sedangkan anak kedua dokter gigi lulusan Universitas Indonesia (UI). Dari kedua anaknya, Wowok dikaruniai 3 orang cucu. (wid)