Waroeng Kemarang Tawarkan Pecel Pitik dan Selfie di Rumah Using

70
Suasana Waroeng Kemarang dengan rumah adat Using terbesar di Tamansuruh, Glagah. (foto/bb/wid)

Glagah (BisnisBanyuwangi.com) – KULINER menjadi salah satu khasanah budaya Banyuwangi. Untuk memikat wisatawan, salah satunya dengan kuliner.  Terbaru, sensasi beda ditawarkan Waroeng “Kemarang” di areal rumah adat Using terbesar di Jalan Perkebunan Kalibendo, KM. 5, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah.

Tak hanya kulinernya yang beragam, di tempat ini pemandangannya memikat, sangat indah. Selain kemegahan rumah adat Using yang sangat besar, hamparan persawahan hijau terlihat asri. Belum lagi puluhan gazebo lesehan dan  pondok bernuansa etnik Using. Berjajar rapi  di pinggiran persawahan, menjadi pelengkap Waroeng Kemarang. Suasananya sangat tepat dipakai menyantap kuliner bersama keluarga.

Owner Waroeng Kemarang, Wowok Merianto  mengatakan menu yang disajikan di Waroeng Kemarang 100 persen khas Banyuwangi. Dikerjakan oleh masyarakat Using sendiri. Termasuk,  beberapa perabot yang digunakan, mulai dari cangkir dan semua properti

hasil karya kerajinan masyarakat Banyuwangi. “Kami sengaja menyuguhkan sajian yang beda dari yang lain. Semua menu khas  Banyuwangi, yang bekerja orang Banyuwangi, dan kesenian live yang kami  tampilkan juga warga sekitar sini. Semua mengusung konsep serba nuansa etnik  Using Banyuwangi,” kata pria yang piawai memainkan berbagai alat  musik modern dan tradisional ini kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Dijelaskan, konsep rumah Using yang dibangun sengaja dibuat besar. Sehingga, terkesan unik. Lokasinya di tepi persawahan, sehingga memberikan suasana segar. Pihaknya, kata Wowok, tidak sekadar  berorientasi pada bisnis, melainkan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat  sekitar. Terbukti, lebih dari 20 karyawan berasal dari warga setempat. Yang unik, sehari-harinya, seluruhnya menggunakan dialog bahasa Using. Mesk begitu, mereka harus bisa berbahasa asing ketika melayani tamu dari luar negeri.

Tidak hanya konsep bangunan dan karyawan yang asli Using Banyuwangi, menu kuliner yang disajikan di Waroeng Kemarang  asli racikan masyarakat setempat. Seperti sego tempong, pecel pitik, ayam kampong, rujak soto, uyah asem, sego cawuk dan lainnya. Bahkan, di Waroeng Kemarang juga menyediakan jajanan tradisional yang mulai langka

Di pasaran. Seperti kucur, serabi gula aren, dan  kuliner tradisional yang menjadi ciri khas Waroeng Kemarang Tamansuruh.

Harga di Waroeng Kemarang relatif murah dibandingkan  dengan resto-resto lain yang sekelas. Misalnya, harga segelas kopi hanya Rp.3000. Sego tempong (nasi, sayuran, sambal) hanya  Rp.5000. Sehingga, sangat terjangkau. Namun, kualitas makanannya tak murahan. Ditambah lagi, suasananya yang memikat. Sembari menyantap kuliner, pengunjung bisa berselfie dengan latar belakang persawahan dan rumah adat Using.

Istimewanya lagi, Waroeng Kemarang menampilkan kesenian paju gandrung setiap Sabtu malam. Khusus  hari biasa, Waroeng Kemarang menampilkan beragam musik etnik Banyuwangi. Mulai gamelan,  angklung, kuntulan, jaranan dan lainnya secara langsung. (wid)