Komunitas Kopi Lego Gombengsari Edukasi Petani untuk Gaet Wisatawan

49
Komunitas Kopi Lego bersama para wisatawan. (foto/bb/wid)

Kalipuro (BisnisBanyuwangi.com) – KOPI robusta dari kawasan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, memang belum terkenal layaknya robusta Kerawang atau Masurai. Apalagi dibandingkan kopi arabika yang menguasai 70 persen  pasar. Seperti kopi Gayo, Mandailing, Kintamani (Bali), hingga Wamena (Papua). Namun, kopi Lego hasil karya petani Gombengsari kualitasnya layak diandalkan. Berbekal potensi ini, Komunitas Kopi Lego di desa setempat mulai mengedukasi petani. Salah satu targetnya, bisa menggaet wisatawan.

Selama ini, kopi dari kawasan Perkebunan Kaliklatak ini kebanyakaan dikirim ke Malang. Namun sejak awal 2016, pemuda dan para petani di desa kopi ini berupaya memperkenalkan produk kopinya sendiri. Melalui wisata, mereka memperkenalkan potensi desa, sekaligus meningkatkan nilai jual kopi.

Adalah Komunitas Kopi Lego yang mempopulerkannya. Komunitas ini terbilang baru. Berdiri sejak pertengahan tahun 2016. Mereka tidak hanya fokus pada kesenian, tapi aktif mensosialisasikan tentang kopi. Mulai tata cara memetik , sangrai serta proses pengolahan kopi.

Komunitas  di Lingkungan Lerek RT/RW 02/01, Kelurahan Gombengsari ini menjadi salah satu pengisi acara Jazz Patrol Kemerdekaan, dihadiri Bupati Banyuwangi. Mereka menampilkan  kesenian dari bambu dan alat musik tradisional lainnya.

Sejak Gombengsari mulai dilirik wisatawan mancanegara dan menggelar festival sangrai kopi tahun 2015, komunitas dari beragam usia tersebut makin getol melakukan kegiatan bermusik. Selain mengembangkan seni, mereka juga aktif membangun kampung wisata. Ada beberapa objek yang selama ini dikembangkan. Salah satunya kopi yang menjadi andalan. Maklum, hampir seluruh masyarakat Gombengsari merupakan petani kopi. Bahkan, 80 persen lahannya tanaman kopi.

“Dulu ini hanya sekadar menanam kopi, setelah ditanam dipanen. Tapi kita generasi penerus mulai mengubah, setelah awalnya kita petik, dari petik ini kita jadi ose (green bean), setelah ose kita jual, tapi kita sekarang ubah,” ujar Taufik, pengurus Kopi Lego  Gombengsari kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Dijelaskan, pihaknya mengubah dengan memproduksi sendiri. Mulai memetik hingga menjadi bubuk kopi. Alasannya, pihaknya yang memiliki kopi, mulai menanam hingga panen. Namun, giliran mengolah, justru dilakukan orang lain. “ Pinginnya kami, bagaimana kita yang mengolah,” lanjutnya.

Kini, selain bisa menjual biji kopi, petani di Gombengsari juga mulai memasarkan bubuk kopi produksinya sendiri. Diolah secara tradisional. Pasar kopi robusta memang terbilang kecil, hanya sekitar 30 persen. Namun pemainnya jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan arabika yang padat pesaing.

Kopi jumega miliki potensi lain, selain agribisnis. Aneka kopi dari Sabang sampai Merauke dapat menjadi alasan wisatawan mengunjungi berbagai daerah di Indonesia. “Kopi sudah sangat populer dan hampir semua di kota-kota, sekarang mulai muncul kedai, warung kopi. Mulai dari yang sederhana sampai mewah. Yang pasti ini produknya petani. Ini petani yang punya. Harapannya kopi di tingkat petani harus ada kenaikan,” ujar Haryono, Ketua Kopi Lego sekaligus pionir wirausaha Kopi Lego di Desa Gombengsari ini.

Meski namanya belum begitu dikenal di Nusantara, setidaknya harga kopi di tingkat petani mulai mengalami kenaikan. Melalui pariwisata Banyuwangi yang tengah menggeliat, kata dia, memposisikan diri di pasar kopi Nusantara menjadi pilihan yang layak dicoba.

“Kopi sudah sangat populer dan hampir semua di kota-kota sekarang mulai muncul kedai, warung kopi, mulai dari yang sederhana sampai yang mewah. Yang pasti ini produknya petani,” ujar Haryono,.

Pria yang akrab dipanggil  H.O ini bersama petani lainnya mengembangkan wisata kopi bernama Kopi Lego (Kampong Kopi Lerek Gombengsari). Melalui wisata ini para pengunjung diajak berkenalan dengan jenis kopi yang dimiliki. Termasuk menjajal langsung semua proses produksi kopi yang masih tradisional.

Gombengsari memiliki kopi berjenis robusta dengan tiga macam varietas, yakni konoga, Togosari, dan Kleres. Per hektar ada tiga jenis kopi. Kopi yang tumbuh di daerah antara Ijen dan pantai ini boleh dibilang memiliki cita rasa yang khas.

“Kopi di sini kenapa rasanya juga banyak konsumen ini ngomong beda dari yang lain. Mungkin juga dari letak geografisnya. Juga mungkin dari faktor pemupukannya. Karena di kita ini ya Alhamdulillah kita ini sudah pemakaian pupuk organik,” jelas Hariyono.

Meskipun berjenis robusta, kopi yang dihasilkan memiliki rasa yang lebih lembut. Bahkan jenis konoga, sebagai kopi paling mahal dari desa ini, memiliki rasa serupa arabika. “Paling mahal yang sekarang ini konoga. Karena cita rasa konoga  jika diproses secara benar, mendekati (rasa) kayak arabika,” pungkasnya. (wid)