Telur Asin Sehari, Omzetnya Rp 1 Juta

80
Pekerja membersihkan bahan telur asin. (foto/bb/wid)

Bulusan Kalipuro (BisnisBanyuwangi.com) – TELUR ASIN atau telur bebek dengan rasa di dalamnya menjadi peluang bisnis menjanjikan. Tentunya, membuka usaha telur asin juga tidak boleh asal, harus mengetahui trik agar bisa berkembang. Seperti yang ditekuni Khairudi, warga Bulusan Kalipuro. Telur asin buatannya banyak dikirim ke beberapa daerah di Banyuwangi, bahkan ke Bali.

Pria yang akrab dipanggil Rudi ini memulai bisnis telur asin tahun 2015, hingga sekarang permintaan telur asin terus tinggi. Apalagi menjelang di hari Natal dan tahun baru. Omzet pun mengalami peningkatan. Sehari, pria yang juga peternak sapi ini mampu meraup keuntungan hingga Rp 1 juta.

“Awalnya sedikit, lalu karena banyak permintaan jadi bebeknya ditambah. Sekarang sudah ada sekitar 1000 ekor,” ungkapnya kepada Bisnis Banyuwangi,pekan lalu.

Dengan memelihara bebek sebanyak 1000 ekor dalam dua kandang yang saling berhadapan, Rudi dibantu dua tenaga pakan dan bersih-bersih. Meski usaha ini menggiurkan, kata dia, tetap saja mengalami pasang surut.

Pasalnya, telur rentan pecah dan busuk. Sehingga banyak konsumen yang mulai mundur. Namun, seiring perjalanan waktu, pria tiga anak ini mulai belajar dari kesalahan. Hingga dalam dua tahun terakhir, kualitas telur asin miliknya sering menjadi jujugan pedagang besar. Mulai dari Genteng, Kalibaru, Rogojampi hingga  Jembrana, Bali.

“Saat ini telur asin disini dikembangkan dari bebek kombong,” kata Rudi yang mengawali usaha bermodal Rp 500.000 tersebut.

Ia mengatakan, permintaan telur asin tetap tinggi sampai saat ini. Secara bisnis, usaha telur asin memiliki prospek yang baik.  Sebab, konsumsi telur di masyarakat selalu stabil. Pangsa pasar telur asin sangat luas, mulai tengkulak hingga pasar tradisional.

Sistem penjualan pertama biasanya dikirim langsung oleh Rudi ke estiap toko di sekitar Kalipuro dan Wongsorejo. Tidak jarang, konsumen datang langsung ke rumahnya di lingkungan Krajan, Bulusan, Kalipuro itu. Tapi, kata Rudi saat ini pihaknya tinggal menerima order secara online.

Kendala saat ini, kata Rudi masih seputar masuknya telur bebek dari daerah lain. Tapi bagi Rudi, tidak masalah, karena masih banyak pelanggan yang memilih dirinya mengirimkan telur.  “Yang paling ramai saat musim Maulid. Juga saat musim hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha,” pungkasnya. (wid)