Drs. H. SUNARTO, M.Pd Pencetus Kabupaten Layak Anak

2
Sunarto. (foto/bb)

Purwoharjo (BisnisBanyuwangi.com) – DI BALIK layar, sosok ini banyak melakukan inovasi dalam program kesejahteraan masyarakat Banyuwangi. Tidak hanya itu, kepeduliannya terhadap anak-anak juga menjadi bagian yang tak lepas dari mimpinya. Sehingga, anak-anak bisa menikmati rutinitasnya dengan baik dan layak. Dia adalah, Drs. H. Sunarto, M.Pd, Kepala Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Pemerintahan Bappeda Banyuwangi.

Jabatan yang diemban Sunarto di posisi penting dalam Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) ini harus melalui perjalanan panjang, berliku. Berkat pengabdiannya, tahun 2017, Banyuwangi membawa pulang Piala Penghargaan Swastisaba Wiwerda. Sebuah penghargaan bergengsi dari Kementerian Kesehatan RI. Di balik prestasi itu, tersimpan kisah panjang perjalanan hidup Sunarto.

Sejak kecil, Sunarto selalu bersentuhan dengan dunia pertanian. Pergi ke sawah dan melakukan aktivitas bertani, sudah menjadi kegiatan sehari-hari putra pasangan, H. Subeli (almarhum) dan Hj. Aminah ini. Tidak heran, meski sudah menjadi pejabat penting, sikapnya yang low profil, menjadi ciri khas pria yang kelahiran 1962 tersebut.

Setelah tamat SD tahun 1975, ia melanjutkan ke SMP hingga lulus, dan melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG), lulus tahun 1982. Padahal, Sunarto remaja bercita-cita ingin menjadi dokter, tapi karena sekolah di SPG, angan-anganya pun terpecah.

Hingga tahun 1983, cita-cita Sunarto ketika remaja mulai sirna. Dia diangkat menjadi guru, dikirim mengajar di SDN 4 Watukebo, Kecamatan Wongsorejo. Disini, Sunarto benar-benar terikat jiwanya untuk konsen mengajar. Dia melihat bagitu banyak anak-anak usia sekolah tidak lagi bisa menikmati pendidikan, namun membantu orang tua bekerja di ladang. Jiwanya terpanggil. Ia pun melupakan keinginannya menjadi dokter.

“Waktu itu berbeda jauh dengan kondisi saat ini. Hampir setiap hari saya bergerilya dari rumah ke rumah untuk mengajak anak-anak mau sekolah. Biasanya waktu malam mereka berkumpul setelah dari lading,” kenangnya saat berbincang dengan Bisnis Banyuwangi, belum lama ini.

Selama 3 tahun awal pengabdiannya, remaja dari Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo ini hanya bisa tidur beralas papan tulis dan meja di ruang kelas, di salah satu sekolah Inpres, di Wongsorejo. Bersama dengan dua sahabatnya, remaja yang awalnya bercita-cita menjadi dokter ini, merubah haluan. Ini setelah melihat kenyataan masih banyak  masyarakat yang butuh pendidikan dan sarana pendidikan yang layak.

Sejak dua tahun lalu, dirinya sudah memiliki konsep layak anak di Banyuwangi. Sehingga pada awal tahun 2017, Banyuwangi berhasil menyandang predikat kabupaten layak anak.

“Memang bukan pekerjaan yang mudah untuk mengajak anak-anak di masa itu untuk sekolah. Sebab, pendidikan bagi sebagian orang masih belum menjamin hidup mapan. Di tambah dengan sarana komunikasi lisan yang berbeda waktu itu, dan itu menjadi pelajaran saya saat ini,” ungkapnya.

Meski Sunarto remaja tidak bisa berbahasa Madura seperti warga setempat, tidak menghalangi niatnya terus mencari anak-anak bersekolah. Semuanya gratis, biaya perlengkapan sekolah pun, Sunarto yang membiayai. Asal anak-anak itu mau bersekolah meski tidak menggunakan seragam.

“Kuncinya harus berani memulai, saya mengajak salah satu warga lulusan PGA untuk menemani, sekaligus menjadi penerjemah,” tuturnya tersenyum. Dia menambahkan, dalam keterbatasan komunikasi bahasa dengan warga setempat, membuatnya berkomitmen belajar bahasa Madura.

Menjadi guru SDN Watukebo Inpres dilakoni Sunarto selama kurang lebih 4 tahun. Di masa-masa pengabdiannya tersebut, pria yang dikenal dengan kedisiplinannya itu menjalani dengan ketulusan. Meski tidur hanya beralas papan tulis dan di atas meja murid di ruang sempit, tidak membuatnya patah semangat.

Bahkan, Sunarto remaja sempat tidak mendapatkan honor selama 7 bulan. Hal itu tidak menjadi beban bagi dirinya. Sebab, salah satu harapannya hanya satu. Dunia pendidikan nomor satu. Sehingga, tidak heran jika setiap malamnya, Sunarto muda juga memberikan pengajaran kejar Paket A dan B.

Selang 4 tahun di kawasan yang dikenal daerah kering itu, tahun 1987, anak ketiga dari 9 bersaudara ini dipindah ke daerah Banjar, Licin.  Kemudian tahun 1993, Sunarto menikah sekaligus mendirikan TK dan TPQ  Islam Darul Falah.

Seiring perjalanan waktu, tahun 2000, Sunarto menjadi Kepala SDN 1 Pakel, Licin.  Kemudian, tahun 2007-2008 dipindahkan ke SDN 1 Bakungan. Lalu, tahun 2008, ayah dari  Rachmadana Nurhaqni dan Aries Rois Hanifatulhaq ini bertugas di UPTD Pendidikan di Kecamatan Songgon.

Dari berbagai pengalaman tersebut, Sunarto banyak menempati posisi sttrategis. Seperti, Kasi Monev Pendidikan di Kecamatan Licin tahun 2009, lalu ditarik ke Dinas Pendidikan sebagai Kasubag Penyusunan Program tahun 2009 hingga tahun 2014. Selama itu, dia selalu melampiaskan mimpi-mimpinya untuk terus mendorong anak-anak supaya cinta pendidikan. “Ternyata, anak-anak memang perlu mendapat perhatian khusus supaya bisa menikmati kehidupan yang layak,” pungkas pria yang gemar kaldu kambing ini. (wid)