AP II Investasi Rp 300 Miliar ke Bandara

13
Bandara Banyuwangi terus berbenah. (foto/bb/ist)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.com) – PENGELOLAAN Bandara Banyuwangi dipastikan segera melejit. Ini setelah PT Angkasa Pura II resmi mengelola operasional bandara kebanggaan Banyuwangi ini. Tak tanggung-tanggung, investasi yang digelontorkan mencapai Rp 300 miliar di tahun 2018.

“ Kita akan bergerak cepat memulai pengembangan bandara, terutama infrastruktur penunjangnya,” kata Dirut AP II  Muhammad Awaluddin usai serah terima operasional Bandara Banyuwangi dari Kementrian Perhubungan kepada AP II di Banyuwangi, pekan lalu.

Besarnya investasi yang digelontorkan kata Awaluddin, salah satunya pembangunan beberapa fasilitas bandara. Pertama, menambah luas apron seluas 18.000 meter persegi. Saat ini apron yang ada  baru seluas 3.000 meter persegi.

“Penambahan luas apron ini sangat penting untuk menambah kapasitas parkir pesawat. Kami targetkan Juli 2018 bisa selesai. Saat ini sudah tender, dan pengerjaannya dimulai Januari,” jelasnya.

Dengan tambahan luas apron tersebut nantinya bandara bisa menampung parkir tujuh pesawat tipe 737 series. “Pesawat jadi bisa menginap. Ini juga untuk menyambut Banyuwangi sebagai bandara penyangga Bandara Ngurah Rai saat Annual Meeting IMF – World Bank, Oktober 2018,” ujarnya.

Kedua, lanjut Awaludin, penebalan (overlay) landasan. PCN Bandara Banyuwangi saat ini sebagian masih 38 akan ditambah menjadi 50-51. “Untuk pengerjaan overlay perkiraan saya tiga sampai empat bulan bisa selesai. AP II juga akan melengkapi fasilitas sarana prasarana terminal bandara,” paparnya.

Awaluddin optimis dengan pengembangan banda Banyuwangi ke depan. Menurutnya, dengan potensi wilayah ditambah konsep bangunan bandara yang menarik, Bandara Banyuwangi akan dikembangkan sebagai tourism airport.

“Di Indonesia hampir tidak  ada terminal bandara yang seperti ini. Umumnya bangunan terminal dibuat standar, namun di Banyuwangi dapat menggabungkan keunikan dan kearifan lokal tanpa menghilangkan fungsinya. Seperti adanya anjungan untuk keluarga pengantar,” tuturnya.

Sejak 2014, Banyuwangi membangun terminal berkonsep hijau pertama di Indonesia dengan konsumsi energi sangat minim. Sebab, nyaris tanpa alat pengatur suhu (AC) dan memanfaatkan pencahayaan alami dengan sinar matahari. Desain arsitekturnya kental budaya lokal. Seperti bentuk atap yang menyerupai penutup kepala suku Using Banyuwangi. Terminal bandara ini juga didominasi bangunan kayu. (udi)