Unik, Aneka Gelang Berbahan Kawat

51
Gelang berbahan kawat dan besi yang unik. (foto/bb/BS)

Banyuwangi (BisnisBanyuwangi.com) – AKSESORIS bagi sebagian besar laki-laki bukan menjadi kebutuhan utama. Namun ada sebagian lelaki yang sangat memperhatikan keberadaan aksesoris sebagai bagian dari penampilan. Memadupadankan aksesoris kalung atau gelang menjadi suatu tradisi tersendiri.

Berawal dari seringnya melihat proses pembuatan gelang dan kalung di media sosial, membuat Indra Siswo Suwignyo, pria kelahiran Surakarta, 14 maret 1963 terinspirasi menciptakan produk kalung dan gelang. Bedanya, bahannya  dari kawat tembaga bakar. Cukup unik.

Disela-sela kesibukannya sebagai guru  SMK, Indra, panggilan akrabnya, mengekspresikan darah seni yang dimilikinya dengan membuat kalung dan gelang dari kawat.

Setelah melakukan eksperimen, dalam waktu tiga hari Indra, mampu membuat 1 unit gelang atau kalung. Dia memadukan tembaga bakar dan batu mulia sebagai bahan utama. Menghasilkan gelang dan kalung yang cantik dan menarik.

Aneka aksesoris yang berhasil diciptakan antara lain, bros, gelang, cincin, liontin, pendet atau bandul kalung. Harganya variatif, mulai Rp 500.000 hingga jutaan rupiah. Tergantung tingkat kesulitan dan kerumitan proses pembuatan.

Koleksi kalung, gelang, atau bros buatan Indra, banyak dikoleksi pejabat atau orang penting di negeri ini. Antara lain, gelang motif bunga melati dibeli istri Bupati Bojonegoro, Ny Suyoto. Selain itu ada lagi beberapa kalung dan gelang yang dibeli Martini Suarsa seorang desainer kondang.

Indra juga sering mengekspresikan suasana hatinya menjadi sebuah karya. Antara lain, bros “aku menangis“, dibuat  saat dirinya mengalami kesedihan mendalam.  Bros “kumbang malam“ diciptakan saat dia terpesona melihat kumbang malam di sebuah taman.

Selain menekuni pembuatan kalung dan gelang dari kawat tembaga, Indra, juga mendalami fitness, bergelut dengan alat-alat olahraga dari besi. Pendek kata, Indra, berhasil memadukan kelembutan kawat dan kerasnya besi.

“Kata teman-teman, saya ini pribadi yang unik. Sekolah di IKIP dan mengajar di PPKN. Tetapi bergelut dengan kawat dan besi,’’ ungkap Indra.

Sebagai pengusaha UKM, Indra, masih mengeluhkan keberadaan beberapa outlet gallery yang menerapkan sistim konsinyasi dan bagi hasil yang rendah. Karena itu dia berharap adanya regulasi dari pemerintah yang melindungi kepentingan para UKM. (nanang sutrisno/BS)