Desa Tegalsari Kuatkan Citra Sebagai Kota Santri

Kades Tegalsari, Boniran. (foto/bb/tin)

Tegalsari – BERADA jauh dari pusat kota Banyuwangi, nama Desa Tegalsari, Kecamatan Tegalsari, cukup dikenal. Sebab, di kawasan ini banyak berdiri pondok pesantren terkenal. Tak heran jika kawasan ini juga dikenal sebagai kota santri di Banyuwangi. Citra sebagai kota santri inilah yang dipertahankan oleh pemerintah desa setempat.

Masuk kawasan Desa Tegalsari, nuansa religius masyarakat terasa kental. Hal ini bisa dilihat dari adanya tiga pondok pesantren (ponpes) besar di kawasan ini. Yakni, Ponpes Sumbelus Salam, diasuh Kyai Haji Hambali Mukti, Ponpes Samrotu Rodoh, diasuh Kyai Haji Agus Badrul Munir, dan Ponpes Mambaul Huda, diasuh Kyai Khodori Majid.

Dikatakan Kepala Desa Tegalsari Boniran untuk menguatkan Desa Tegalsari sebagai Desa Santri perlu menghidupkan kegiatan-kegiatan yang menjadi penyangga. Seperti menghidupkan kegiatan jamaah-jamaah masjid, jamaah yasin dan tahlil, manakib Syeh Abdul Qodir Jaelani dan tibaiyah Alberjanji. “Termasuk kegiatan Sholawatan,” ucapnya kepada Bisnis Banyuwangi, belum lama ini.

Kegiatan bertajuk Desa Tegalsari Bersholawat ini akan dihelat Januari 2018 mendatang. Menghadirkan Abu Syafaat Blokagung. Kegiatan ini, kata Boniran dalam rangka tasyakuran atas kesuksesan Desa Tegalsari dalam menggelar Pilkades 2017 yang berjalan tertib dan damai. “Rencananya, kegiatan bersholawat ini bisa digelar rutin tiap bulan,” ucapnya.

Selain bersholawat, kades yang baru saja terpilih lagi ini berharap tiap bulan digelar berbagai even. Seperti kegiatan pentas seni. Hal ini untuk memberikan kesempatan grup kesenian agar bisa berkembang. Berbagai kesenian tumbuh di desa ini. Seperti angklung, jaranan dan samproh modern.

Boniran, pria asli Dusun Mojoroto ini sukses terpilih dalam Pilkades 2017. Hal ini tak lepas dari keberhasilanya selama menjabat sebagai kadus dalam periode lalu. Kiprah Boniran di masyarakat dinilai bagus. Dia aktif di organisasi sosial dan tercatat sebagai Ketua NU tingkat ranting selama dua periode. Yakni sejak 2005 sampai sekarang.

Meski sempat gagal saat mencalonkan diri sebagai Kepala Desa Tahun 2011, tapi hal tersebut bukan halangan baginya ingin mengabdi kepada masyarakat. Dipercaya sebagai kadus, Boniran berbuat terbaik untuk warga. Sehingga kinerjanya membuahkan hasil. Dari keberhasilan kecil tersebut, warga mempercayakan dirinya memegang tanggung jawab lebih besar lagi dengan menjadi kepala desa.

Keberhasilannya mendidik anak-anak juga menjadi alasan warga memilih dirinya. Meski hanya lulusan Paket B, Boniran mengaku ingin kedua anaknya bisa mencicipi pendidikan tinggi. Berkat kerja kerasnya, kini mengantarkan kedua anaknya sebagai sarjana. Anak pertamanya sukses meraih Sarjana Sastra Arab. Kini, mengajar di MTs Mambaul Huda. Sementara anak kedua sukses menamatkan SI Syarif Hidayatullah Jakarta dan S2 IAIN Jember, kini bekerja sebagai dosen di IAIDA Blokagung.

Program prioritasnya meningkatkan pelayanan warga. “Pelayanan diupayakan dipermudah dan dipercepat. Sehingga warga datang dengan senyuman, pulang dengan senyuman,” ungkapnya.

Perbaikan infrastruktur tak luput dari perhatiannya. Salah satu program pemasangan wifi di 50 titik seluruh desa. “Tahun pertama, di 10 titik dulu,” ucapnya. Menurutnya akses internet kini bukan lagi menjadi keinginan warga, tapi menjawab kebutuhan warganya. Dengan akss internet gratis, dia berharap warga bisa meningkatkan kualitas SDM, serta memacu ekonomi warga. Untuk meminimalkan dampak negatif internet, pihaknya megajak peran orangtua memberikan pengawasan.

Boniran mengaku dirinya akan bekerja keras untuk warga. Salah satunya mengatasi persoalan kebersihan lingkungan. Sejak menjabat sebagai kadus, sudah menjadi aktivitasnya bersepeda keliling lingkungan desa untuk memantau kawasan banjir. Kini, beberapa kawasan Tegalsari yang rawan banjir sudah berhasil ditangani. Masalahnya, sampah berserakan. Untuk mengatasi persoalan sampah ini, dia mengupayakan mobil pengangkut sampah.

Menurutnya jabatan kepala desa adalah amanah. Karena itu, harus dipertanggungjawabkan. Ke depan, melalui anggaran ADD akan memberikan santunan kepada janda miski, berupa bantuan modal senilai Rp 1 – Rp 2 juta per orang. “Tergantung dana yang ada,” ucapnya.

Menurutnya mayoritas pekerjaan warga Desa Tegalsari buruh tani. Jeruk masih menjadi komoditas unggulan. Untuk meningkatkan kualitas petani, dirinya mengupayakan adanya berbagai pelatihan. Selain itu, agenda car free day, tetap akan rutin digelar, serta kegiatan ngruwat desa dengan menggelar kesenian wayang akan tetap dihelat tiap 2 tahun sekali. (tin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here