Kedai Kasela Populerkan Kopi Nangka

84
Kopi nangka yang mulai populer. (foto/bb/wid)

Kalipuro – KEBANYAKAN orang hanya mengenal dua jenis kopi, robusta dan Arabica. Sehingga melupakan bahwa banyak macam kopi di Banyuwangi. Salah satunya,  kopi jenis excelsa. Kopi jenis ini masih sangat jarang  diketahui. Populasinya terbatas. Kopi ini mulai dikenal sejak tahun 1904.  Karakteristik tanaman kopi excelsa, pohonnya lebih besar, memiliki produktivitas tinggi. Bisa berbuah sepanjang tahun, panen setiap bulan.

Menurut Muntaha, pemilik “Kedai Kasela” di Lingkungan Kacangan, Gombengsari, Kalipuro kopi excelsa lebih tahan terhadap gangguan hama dan penyakit. Lalu, bisa tumbuh subur di daerah dataran rendah dan lahan gambut. Bahkan,  pada iklim sedang hingga iklim panas. Kopi jenis excelsa berbuah di umur 3,5 tahun. Tinggi pohon bisa mencapai 9 meter dan sangat mirip dengan kopi jenis Liberica. “90 persen warga di sini petani kopi. Selain Arabika dan robusta yang sudah terkenal, ada satu jenis kopi yang langka dan punya cita rasa yang unik. Yakni, kopi excelsa. Kopi ini khas dengan aroma nangkanya, sehingga banyak orang menyebutnya sebagai kopi nangka,” kata Muntaha kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Di kawasan Gombengsari, rata-rata di pekarangan rumah warga ditanami pohon kopi. Saat memasuki musim panen, warga menjemur hasil kebunnya di halaman rumah masing-masing. Menariknya, tidak hanya biji kopi yang bisa dikomsumsi. Menurut Muntaha, kulit kopi nangka bisa dibuat teh rasa kopi. Laki-laki kelahiran Kacangan ini menandaskan bahwa kopi nangka termasuk istimewa. Sebab, rasaya khas. Nuansa asam. Muntaha mengaku, jenis kopi nangka  kering dibandrol Rp 35.000 hingga Rp 40.000 per kilogram. Sedangkan kopi nangka bubuk dibandrol Rp. 175.000 per kilogram.

Kulit kopi nangka yang telah kering, melalui proses perendaman kopi, pemecahan dan penjemuran ditawarkaan Rp 40.000 hingga Rp 50.000 perkilogram. “Ini disebut juga dengan istilah cascara. Selama ini biasanya kulit buah kopi  dibuang begitu saja. Padahal kalau diolah dan dimanfaatkan bisa memiliki daya jual  tinggi. Apalagi penjualan cascara ini prospeknya cukup bagus ke depannya,” kata pria yang aktif membantu pemasaran kopi rakyat tersebut.

Dengan mengolah cascara, lanjutnya, petani menjadi disiplin memetik kopi yang berwarna merah.  Karena, cascara hanya bisa dibuat dari kulit buah kopi yang benar-benar matang. Jika kulit buah kopi masih hijau atau kekuning-kuningan, rasa dari cascara tidak maksimal.

Muntaha menjelaskan, cara membuat cascara cukup sederhana. Kulit buah kopi dipisahkan dengan biji kopinya. Lalu kulit buah kopi yang berwarna merah dijemur di panas matahari. Sehingga mendapatkan udara langsung dari bawah dan atas.

Penjemuran dilakukan hingga kulit buah kopi kering. Biasanya kalau cuaca bagus tiga hari sudah kering,  jika cuaca mendung sekitar 5 harian . Semua pengelolaan  secara alami. Tidak ada campuran apapun.

Ditambahkan, pembuatan cascara biasanya menggunakan kopi jenis Arabika. Sebab, kulitnya lebih tebal dibandingkan kopi  robusta. Akan lebih enak dinikmati jika didiamkan terlebih dahulu,  lalu disimpan di dalam almari pendingin. Rasanya mirip dengan rosela. Ada rasa asam, hanya cascara memiliki taste yang berbeda. Tidak perlu ditambahkan gula untuk menikmatinya. “Jika Banyuwangi bisa memproduksinya,  kenapa tidak menggunakan produksi Banyuwangi. Apalagi peminatnya saat ini cukup banyak.  Karena cascara sudah mulai populer di kalangan masyarakat, khususnya anak muda,” pungkasnya.  (wid)