Buah Naga Organik, Modal Rp 40 Juta Hasilkan Rp 560 Juta

90
Panen buah naga organik di Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu. (foto/bb/ist)

Sempu – PERTANIAN hortikulutra yang dikembangkan petani Banyuwangi kian memiliki nilai tawar tinggi. Buah naga organik salah satunya. Buah naga ini dikembangkan Kelompok Tani Pucangsari di Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu. Hasilnya, menggiurkan. Dari modal sekitar Rp 40 juta, para petani bisa menghasilkan omzet Rp 560 juta dalam sekali musim panen. Sebab, harga buah naga organik jauh lebih mahal dibandingkan naga biasa.

Ketua Kelompok Tani Pucangsari, Rukiyan, mengatakan, sejak awal penanaman pihaknya menerapkan cara yang memenuhi standar organik. “Dengan cara ini buah yang dihasilkan lebih tahan lama sampai 25 hari, sedangkan kalau non organik 7-10 hari sudah rusak,” ujar Rukiyan, pekan lalu.

Rukiyan mengatakan, dalam satu musim, dengan luas lahan 40 hektar, hasil panen buah naga organik kelompoknya mencapai 1.600 ton. Nilai ekonomisnya jauh lebih tinggi. “Dengan modal Rp 40 juta, kami bisa memperoleh Rp 560 juta setiap musimnya, sekitar sembilan bulan,” jelasnya.Menurut Rukiyan, permintaan nbuah naga organik cukup tinggi. Bahkan dia belum mampu memenuhi semuanya.

Pihaknya mengirim buah naga organik ke berbagai kota dan luar negeri. Diantaranya ke Jakarta sebanyak 40 ton per bulan, Malang 16 ton per bulan, Bali dan Bogor masing-masing 8 ton per bulan. Khusus ekspor ke Singapura sebanyak 4 ton per bulan. “ Kami juga pasok jeruk dan jambu kristal organik,” tutur Rukiyan. Kelompok Tani Pucangsari juga menggarap aspek hilir dengan mengembangkan produk olahan. Seperti makanan ringan berbahan buah naga, keripik singkong, dan aneka minuman instan rempah.

Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi Arief Setiawan mengatakan, luas panen buah naga di Banyuwangi mencapai 2.283 hektar, kapasitas produksi 117.709 ton. “Banyuwangi adalah sentra buah naga nasional,” ujarnya.

Khusus pengembangan buah naga organik, saat ini Kelompok Tani Pucangsari telah mendapatkan sertifikat organik PRIMA yang menjamin mutu dan kemanan pangan. “Banyuwangi juga mempunyai sejumlah komoditas organik yang telah tersertifikasi, terutama beras merah organik, bahkan juga telah diekspor,” paparnya. (udi)