Kue Kucur Diminati Turis Asing

54
Pengunjung menikmati suasana malam di Pesantogan Kemangi, Desa Kemiren. (foto/bb/wid)

Glagah – PESATNYA perkembangan pariwisata Banyuwangi membuat berkembangnya kafe atau tempat nongkrong. Berbagai suguhan dan suasana ditawarkan. Terutama, sajian kuliner tradisional. Seperti, kafe “Pesantogan Kemangi”di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Pesantogan memiliki arti tempat nongkrong. Sedangkan Kemangi adalah kepanjangan dari Kemiren Banyuwangi. Kafe ini berada sekitar 9 kilometer dari pusat kota. Bagi yang ke Banyuwangi, tak ada salahnya jika mampir ke tempat ini.

Suguhan kuliner khas Banyuwangi, seperti pecel pitik dan uyah asem menjadi andalan. ‎Selain itu, makanan ringan, seperti kucur, serabi dan tape buntut juga tersedia. Untuk minuman, teh, beras kencur, temu lawak dan kopi khas Kemiren ‘Jaran Goyang’. Seluruhnya  menjadi pemikat wisatawan untuk nongkrong. ‎ Warung ini buka mulai pukul 11.000 hingga 24.00 WIB.

Bagi orang Using, Banyuwangi, pecel pitik punya tempat khusus di hati. Sebab, hanya dihidangkan ketika upacara ritual.”Pecel pitik itu harus ada saat selamatan atau ritual, mulai dari selamatan sawah, selamatan desa, hingga akad nikah. Disertai doa dan harapan agar sesuatu yang digeluti setiap hari berbuah kebaikan,” kata pengelola Pesantogan Kemangi, Dikry Wahyu Permana kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu. Ayam dipilih karena mudah didapat, harganya terjangkau. Hampir semua warga kemiren juga memelihara ayam sendiri.

Rumah makan berkapasitas tempat duduk 150 orang ini menghidangkan menu tradisional khas Using. Hampir setiap hari penuh sesak oleh pengunjung. Pada akhir pekan, pengunjung harus terlebih dulu menelepon untuk reservasi jika ingin kebagian tempat duduk.

Menu utama yang banyak diburu adalah pecel pitik dan uyah asem. Seperti pecel pitik, uyah asem selalu ada sebagai hidangan di upacara kematian atau selamatan pendirian rumah. Kedua menu tersebut berbahan dasar ayam kampung. Diolah dengan bumbu lokal terbaik. Meskipun bisa dinikmati di rumah makan, kedua masakan ritual ini tetap diolah secara tradisional.

Ada 3 bangunan rumah khas Using  yang ‎menjadi tempat nongkrong ini. Dua  rumah baru terbuat dari kayu sebagai tempat nongkrong, 1 rumah lama berukuran besar sebagai pentas. Ketiga rumah ini berjejer. Tak hanya itu, ornamen khas Banyuwangi, seperti kiling  atau kincir, angklung dan omprok  atau mahkota Gandrung menambah suasana khas Banyuwangi.

Dikry  mengatakan menu-menu yang disediakan di Pesantogan Kemangi lebih banyak lokal. Bahkan, beberapa menu diantaranya biasanya hanya muncul satu tahun sekali dalam acara adat. Tapi di tempatnya bisa dinikmati setiap hari.

Tak hanya itu, setiap Sabtu malam, ada hiburan gamelan khas Kemiren. Para pemuda desa setempat menggelar latihan gamelan sambil menghibur pengunjung yang datang. Jika beruntung, ada tari Gandrung dan Jaran Goyang disuguhkan. “Seperti malam ini ada Gandrung. Karena jika ada tamu rombongan, ada suguhan kesenian khas Banyuwangi,” tambah Dikry. Ia menambahkan modal awal dari BUMDes ini hanya Rp 8 juta.

Untuk harga kuliner, tak usah khawatir. Karena tergolong murah. Satu porsi pecel pitik dibandrol Rp 15.000. Sementara jajan dan minuman ringan mulai  Rp 5.000 hingga Rp 6000. Ia menambahkan, tidak banyak yang menjual jajanan seperti kucur hangat, serabi maupun beras kencur.  Kucur dan serabi yang disuguhkan panas membuat banyak pelanggan ketagihan, termasuk turis asing. (wid)