Komunitas Mercedes Jip Indonesia (MJI) Promosikan Wisata Banyuwangi ke Nasional

129
Komunitas MJI di Sadengan, Alas Purwo. (foto/bb/ist)

Banyuwangi – PERKEMBANGAN pariwisata Banyuwangi terus menarik para komunitas berkelas nasional. Komunitas Mercedes Jip Indonesia (MJI) salah satunya. Pekan lalu, MJI berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata menyambangi Banyuwangi selama dua hari, sebelum melanjutkan turing ke Bali. Di Banyuwangi, mereka menyusuri sejumlah wisata alam yang menantang. Seperti Alas Purwo.

Diawali dari  Jakarta, sebanyak  60 mobil Mercedes Jip  menempuh rute touring 1000 kilometer. Di Banyuwangi, mereka eksplorasi potensi wisata alam dan budaya, serta melakukan beberapa pemotretan.  “Start hari pertama, 8 Desember 2017, lebih dari 100 orang anggota MJI melakukan perjalanan menuju Jawatan, Benculuk,” kata Jefry Christanto, pengurus MJI kepada Bisnis Banyuwangi.

Jefry menuturkan, selepas aktivitas pemotretan yang melibatkan beberapa model menggunakan kostum gandrung, dilanjutkan menyantap kuliner Banyuwangi sego tempong. Lalu, dilanjutkan touring ke Taman Nasional Alas Purwo. Sejumlah obyek wisata di kawasn hutan lindung ini didatangi. Mulai situs kawitan hingga mengeksplorasi indahnya savana Sadengan.

Seolah tak pernah lelah mengeksplorasi keindahan kabupaten berjuluk the Sunrise of Java ini, petang harinya para pegiat MJI memacu kendaraan double gardan menuju Desa Using Kemiren. Mereka disambut kesenian tradisional Gedog Lesung, dibawakan oleh ibu-ibu Desa Kemiren. Acara semakin hangat ketika sajian kuliner Pecel Pitik khas suku Using. Menariknya,  disantap saat makan malam dengan kemasan “bancakan”  atau lesehan. Menurut Jefry, Komunitas MJI berdiri tahun 2013. berawal dari perkumpulan sebuah keluarga yang memiliki hobi serupa. Seiring perjalanan, lalu berkembang menjadi komunitas yang kini telah memiliki member di seluruh Indonesia. MJI terdiri  para petualang dan pecinta mobil Mercedes Benz G-Class. Anggotanya tersebar di berbagai kota besar, seperti Pekanbaru, Bandung, Jakarta, Surabaya, Samarinda, Denpasar, dan Banda Aceh, bahkan dalam touring ke Banyuwangi ada beberapa peserta dari Jerman, Malaysia, dan Jepang.

Dalam berkegiatan, MJI selalu punya cara untuk membuat para membernya tersentuh. Mereka melakukan touring yang diikuti puluhan mobil, dan memadukan aktivitas antara petualangan, kegiatan sosial dan solidaritas.

Jefri mengatakan, kehadirannya di Banyuwangi karena kabupaten paling timur ini sangat berpotensi menjadi wisata kelas dunia, terutama kekayaan budaya, kesenian tradisional, dan kearifan lokal masyarakat. Serta, potensi desa dan kampung-kampung yang memiliki keunikan khas. “Yang perlu dibenahi hanya hal fasilitas publik di lokasi obyek wisata, seperti kamar mandi, toilet dan tempat ibadah.  Dan, terpenting harus dijaga kealamiannya,” jelasnya.

Pihaknya berharap, hadirnya Komunitas MJI di Banyuwangi, potensi alam, seni budaya, dan desa-desa  lebih bisa dipromosikan secara nasional, bahkan internasional. Karena anggota komuntas ini rata-rata adalah pengusaha besar dan pejabat. sehingga akan bersinergi dalam jaringan internasional.

Sementara itu, Manager Organize touring MJI tour Banyuwangi Andriansi Febria Ramadhani selain menyusuri beberapa lokasi wiasata di luar kota Banyuwangi, MJI juga  menggelar kegiatan gala dinner di Kampong Pulau Santen, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi. Mereka disambut tarian gandrung oleh Sanggar Gandrung Arum Cluring.

Eby menambahkan, acara ini di Kampong Pusan atau Pulau Santen tidak terlepas dari dukungan Kodim 0825 Banyuwangi dan komunitas Hidora  atau Hiduplah Indonesia Raya. “Kami juga mempersiapkan acara api unggun untuk menghangatkan dan mengakrabkan suasana. Disemarakkan pula atraksi sepak bola api oleh pemuda-pemuda Kopi Lego  atau Kampong Kopi Lerek Gombengsari dari kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, yang juga menjadi kampung dampingan komunitas Hidora” ungkapnya.

Sementara itu, menurut tim Hidora Banyuwangi, Bachtiar Djanan kegiatan MJI sebagai media mempromosikan Banyuwangi ke dunia internasional. Selama kegiatan digelar juga mini bazar, menampilkan produk-produk UMKM dan IKM dari desa-desa dan kelurahan di Banyuwangi. Seperti batik dan aneka produk kopi. Pihaknya berharap kehadiran MJI ini bisa membantu menyebarkan potensi wisata dan alam Banyuwangi. “ Jadi potensi Banyuwangi, baik alam, budaya maupun produk kerajinan bisa dikenal luas,” pungkas pria yang akrab dipanggil Tedjo ini. (wid)