Maulid Nabi di Desa Watukebo Dimeriahkan 35 Pohon Telur Hias

35
Tokoh masyarakat Desa Watukebo ( Kuswadi, H. Kosidi, H. Saefudin dan Ali Sadikin) saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, pekan lalu. (foto/bb/ist)

Blimbingsari – PERAYAAN Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari, berlangsung meriah, Sabtu pekan lalu lalu. Kegiatan bernuansa religius ini sudah menjadi agenda rutin di desa setempat. Perayaan dipusatkan di mushala H. Bani Sayuthi, merupakan kegiatan warga Dusun Krajan, RT3/III dan RT 1/IV.

“ Ini memang agenda rutin setiap tahun,” kata Ketua panitia, Kuswadi. Menurutnya, kegiatan ini sebagai wujud pelestarian nilai budaya dan kearifan lokal di Banyuwangi. Sehingga, secara turun temurun terus dilakukan. Perayaan Maulid, kata dia, dilakukan dengan dua cara. Berdzikir tahlil dipandu, H. Kosidi, Ketua Ta’mir mushala H. Bani Sayuthi. Lalu, dilanjutkan puji-pujian dan kisah Nabi Muhammad SAW dengan Bahasa Arab dari bitab Barzanji.

Seperti biasa, perayaan dimeriahkan dengan pohon telur hias. Kali ini, sebanyak 35 pohon telur hias, menghabiskan 1.750 butir telur. Seluruh pohon telur hias ini hasil sodaqoh mayarakat. Warga juga antusias membawa nasi kotak yang dianggap sebagai berkah peringatan Maulud Nabi. Selama perayaan, warga tumplek blek di sepanjang jalan depan mushalla, H. Bani Sayuthi. Mulai anak-anak, warga dewasa dan kalangan ibu-ibu PKK. Ikut juga para santriwati Pondok Tahfid asuhan Ustadz Habib Mustofa. Suara puji-pujian membuat perayaan terasa khusuk. Pawai arak-arakan jodang telur hias juga tak kalah meriah.

Menurut Kuswadi, kegiatan Maulid Nabi menjadi tradisi rutin di desanya. Kegiatan ini juga memupuk semangat gotong royong antarwarga. “ Ini sebagai bentuk filosofi tentang kepedulian kepada sesama melalui berbagi,” jelasnya. Ditambahkan, salah satu kegiatan merayakan kelahiran Rosul adalah dengan mengamalkan nilai-nilai yang dibawanya. Yakni, Islam Rohmatan Lilalamin, serta menyayangi sesama manusia, saling berbagi dan tolong menolong dalam kebaikan.  “ Ini sejalan dengan spirit gotong royong yang telah ada dalam budaya kita selama ini,” imbuh Kuswadi.

Tak kalah penting, kata dia, kegiatan Maulid untuk mempertahankan tradisi dan kearifan lokal yang hampir punah. Yakni, pembacaan kitab Barzanji, khususnya “Asrokol” dalam nada puji-pujian, setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing.

Sementara itu, Ali Sadikin, salah satu tokoh masyarakat Dusun Krajan menuturkan peringatan Maulid Nabi di tahun ini lebih ramai dan besar dari tahun sebelumnya. Pihaknya berharap kegiatan ini bisa merawat semangat kebersamaan warga. (udi/*)