Pengusaha Kopra Beralih ke Arang Kayu

181
Permintaan arang kayu meningkat jelang akhir tahun. (foto/bb/ida)

Sempu – MENJADI seorang pengusaha harus ulet, pantang menyerah dan kreatif. Sebab, sebuah usaha tak akan berjalan mulus, selalu ada jatuh bangun. Setidaknya, pengalaman itu yang dirasakan Ahmad, pengusaha kopra yang kini beralih ke pembuatan arang kayu.

Sejak pasaran kopra merosot, pria asal Sempu ini beralih ke pembuatan arang. Usaha kopra bangkrut akibat harga kelapa yang melambung.  Sehingga tidak sebanding dengan biaya produksi. Tak ingin ekonominya terganggu, Ahmad memanfaatkan tungku pemanggang kopra untuk membuat arang.

Usaha pembuat arang kayu sudah ditekuni 3 tahun. Bermodal Rp 600.000, membeli 4 kubik kayu, Ahmad memulai membuat arang. “ Kami menggunakan bahan kayu tua, seperti kayu asam, rambutan dan mahoni. Ketika dibakar tidak hancur,” jelasnya kepada Bisnis Banyuwangi, belum lama ini.

Pabrik pembuatan arang miliknya berada di Dusun Palosan, Desa Gendoh, Sempu. Arang buatanya dijual Rp 2700 per kilogram. “ Itu khusus harga grosir,” jelasnya. Ditambahkan, proses pembuatan arang membutuhkan waktu seminggu. Sehingga, menghasilkan arang berkualitas.

Sebelum dibakar kayu kayu dipotong kecil, kemudian dimasukan ke dalam tungku pembakaran. Jika cukup matang, kayu yang dibakar menjadi hitam. Kemudian didiamkan sampai dingin, lalu diangkat dan dikemas ke dalam karung.

Menurut Ahmad, jika bahan kayu yang digunakan bagus,  haisl pembakaran akan utuh, tak hancur. Satu kali pembakaran bisa menghasilkan 7 kwintal arang. Omzetnya, sekali pembakaran sekitar Rp 3 juta. Dahulu, arang banyak dikirim ke Bali. Kini, banyak pelanggan yang datang langsung ke rumah Ahmad. “ Kalau jualan di rumahnya, perputaran uangnya lebih cepat,” jelasnya.

Dalam memproduksi arang, Ahmad dibantu 2 karyawan. Menjelang tahun baru, permintaan arang meningkat. Sebab, banyak digunakan untuk acara bakar ikan di akhir tahun. Selain tahun baru, penjualan arang kayu ramai pada  hari hari besar. Usaha arang kayu tidak terkendala bahan, namun apabila musim kemarau banyak arang kayu hutan yang murah. Sehingga permintaan sepi. (ida)