Bernilai Seni, Jasa Bordir Tak Pernah Mati

68
Trusti Judiarto. (foto/bb/BS)

Banyuwangi – PERKEMBANGAN dunia fashion tidak lepas dari peran jasa bordir. Sebagai salah satu teknik hiasan pada kain, bordir atau sulam makin mempercantik gaun. Tidak hanya itu, motif yang indah bisa ditampilkan dalam berbagai dekorasi rumah.  Seperti taplak meja, serbet, dan lainnya. Dunia bordir konvensional yang rumit, butuh ketelatenan, menjadi pelabuhan hati Trusti Judiarto. Ketua Persatuan Pengusaha Bordir (Persadir) Jawa Timur (Jatim) ini menggeluti usaha sulam menyulam sejak 1995.

“Bordir itu sangat menarik. Bordir itu sebetulnya hanya aksen, sedangkan baju fungsinya sebagai fashion atau penutup, jadi aksen yang ditampilkan pada fashion,” tutur wanita cantik pemilik “MS Sulam” ini, pekan lalu.

Dari hobi, pengajar di salah satu perguruan tinggi swasta ini menjadi instruktur bordir. Semakin lengkap, karena Trusti juga membuka galeri sulam di tempat tinggalnya, Ketintang Surabaya. “Saya senang dengan dunia sulam menyulam, sebetulnya sejak dulu saya lebih ke sulam atau bordir dengan alat jahit tangan (manual),” imbuhnya.

Galeri sulam miliknya mengangkat bordir dalam berbagai jenis dekorasi rumah. Menonjolkan keunikan sulam tradisional menggunakan tusuk pipih dan benang tenun. Jika dilihat, proses sulam tangan memang susah, membutuhkan ketelatenan serta ketelitian. Semisal, satu set taplak meja berukuran 2,5 meter x 3 meter lengkap dengan serbetnya membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan. “Karena orang menyulam memiliki taste masing – masing, seperti orang memasak dengan taste yang berbeda,” tambah Trusti. Usahanya saat ini membawahi 26 orang karyawan. Memiliki rumah tinggal di Mojokerto dan Surabaya. Relasi serta jalinan kerjasama dalam dunia bordir terus ia kembangkan.

“Saya mempunyai pengrajin yang membantu kami menyulam, dari Kediri, Mojokerto dan Jombang. Sehingga saya mempunyai banyak teman yang bisa membantu kami dalam memproduksi,” tuturnya. Kapasitas produksi dilihat dari konsumen dan berdasarkan pesanan.

Ada beberapa hal yang membuatnya mencintai sulam. Yaitu, sulam adalah warisan dari nenek moyang, meskipun bukan berasal dari Indonesia. Menurutnya, sulam yang mahal bukanlah bahan, namun proses pembuatan. Sulam atau bordir  juga bisa diaplikasikan di fashion maupun dekorasi rumah. Dari  sulam ini, imbuhnya, bisa mendatangkan pendapatan. “Dari dulu banyak hal yang saya pelajari. Saya lebih cenderung merangkai bunga kering dan sebagainya, tapi jatuh cinta saya ada di sulam,” pungkas wanita berhijab ini. (lely yuana/BS)