Masih Menjanjikan, Usaha Kue Basah

175
Kue bolu yang laris. (foto/bb/ida)

Genteng – DI tengah serbuan makanan modern, kue tradisional masih saja laku. Seperti usaha yang ditekuni Ita, asal Desa Kembiritan, Genteng sejak tiga tahun silam. Keterampilan membuat kue diperoleh dari resep buku. Sempat gagal beberapa kali, Ita akhirnya menemukan rahasia membuat kue enak.

Menurutnya kue basah merupakan usaha yang masih menjanjikan. Sebab, masyarakat mayoritas menyukai jajanan tradisional. Baik basah atau kering sebagai camilan. Termasuk,  untuk berbagai acara hajatan. Setiap hari Ita membuat kue basah untuk melayani pesanan.

Agar pelanggan tak bosan, wanita ini selalu berinovasi membuat kue. Seperti nogosari yang biasanya dibungkus daun pisang, kini dibuat berlapis. Ada juga bolu kukus yang dibuat dengan varian rasa. ” Kalau rasanya tidak dibuat berbeda dan variasi, pelanggan pasti bosan,” ujar Ita, belum lama ini.

Selama ini, Ita hanya membuat kue sesuai pesanan. Namun, setiap hari tak pernah sepi order. Apalagi, ketika musim hajatan. Ada juga untuk kegiatan kantor. Setiap hari minimal 500 kue basah dipesan pelanggan. Dalam proses pembuatan, Ita dibantu dua orang tetangga. Harga kue buatannya mulai Rp 500 hingga Rp 2000 per biji.

Pelanggannya selain dari Kembiritan, juga wilayah Jajag, Genteng dan Sempu. Bahan yang dipakai selalu berkualitas. Sehingga, bisa tahan sehari.

Meski masih memakai peralatan manual, kue yang dihasilkan sangat disukai dan laris. Omzet dari pembuatan kue bisa tembus Rp 1,5 juta per bulan. Usaha kue, kata Ita, hanya terkendala bahan. Sebab, harganya kerap naik. ” Daun pisang juga sulit,” jelasnya. Padahal, pelanggan kebanyakan memesan kue tradisional dengan bungkus alami. Bahkan, dimasak dengan tungku. Karena keterbatasan tenaga, Ita tak melayani jasa antar. Pelanggan  datang langsung. Jenis kue yang paling sering dipesan adalah nogosari, lumpia dan bolu kukus. Ita berharap bisa memiliki toko kue sendiri. Sehingga, memudahkan pelanggan. Dia berharap konsumsi kue tradisional tetap tinggi. Sehingga, jajanan lokal akan tetap lestari. ” Kalau konsumsi sedikit, otomatis jajanan lokal akan hilang karena sepi pembeli,” pungkasnya. (ida)