Desa Karangsari Pusatnya Usaha Pembibitan

110
Pembibitan cabai. (foto/bb/tin)

Sempu – BERBAGAI potensi pertanian menjadi unggulan desa-desa di Banyuwangi. Seperti usaha pembibitan yang menjadi andalan Desa Karangsari, Kecamatan Sempu. Di Desa ini berkembang beragam pembibitan tanaman. Menjadi salah satu penopang ekonomi warga.

Desa Karangsari merupakan desa indukan. Luasnya 1.341 hektar, terdiri dari delapan dusun, Dusun Dadapan, Truko, Gumuk, Simbar, Karangrejo, Nganjukan dan Mangli. Sejak dulu, Desa Karangsari dikenal dengan industri gula merah. Seiring dengan banyak penebangan pohon kelapa, kini banyak warga beralih ke pekerjaan lain.

Kawasan Desa Karangsari sebagian merupakan kawasan perkebunan. Jika dulu, pohon kelapa, kini beralih ke tanaman tebu.  Berada di dataran rendah, dengan sumber air melimpah, membuat warga mengandalkan sektor pertanian. Padi dan palawija masih menjadi tanaman unggulan. Kondisi tanah liat membuat desa ini cocok ditanami singkong. “Dulu, desa kami juga terkenal dengan hasil rambutan, tapi sekarang tak lagi,” ucap Kepala Desa Karangsari, H. Mohammad Soleh kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Desa ini juga terus berbanah. Berbagai upaya pembangunan desa dilakukan terutama di bidang infrastruktur. Tingkat ekonomi warganya pun terus berkembang, seiring tumbuhnya sektor industri. Salah satunya, keberadaan pabrik triplek yang banyak menyerap tenaga kerja warga setempat. Berbagai industri usaha rumah tangga pun tumbuh subur. Salah satunya usaha pembibitan.

Desa Karangsari juga identik dengan nasib para eksodan yang menetap di desa ini. Mereka merupakan korban kerusuhan di Indonesia, seperti korban kerusuhan Aceh, Sampit dan Poso. Ada sekitar 167 KK warga eksodan yang kini sudah menjadi warga Desa Karangsari. Mereka menetap di perumahan eksodan dan bekerja sebagai buruh. (tin)

Bibit Pepaya hingga Tape  

SEJAK dulu, Desa Karangsari dikenal sebagai pusat usaha pembibitan. Ada ratusan kepala keluarga (KK) di desa ini yang menekuni usaha pembibitan.  Menurut Kepala Desa Karangsari, H. Mohammad Soleh, usaha pembibitan ini sudah ada sejak 30 tahun silam. Jumlah pelaku usaha ini makin tahun kian banyak. Mereka tersebar di Dusun Karanganyar dan Nganjukan. “Adanya usaha ini juga bisa meningkatkan ekonomi warga,” ucap pria asli Dusun Nganjukan ini.

Tak heran, jika masuk ke desa yang berjumlah penduduk 16. 584 jiwa ini, tampak aktivitas warga merawat bibit tanaman sayur-sayuran. Hal ini menjadi pemandangan yang sudah biasa.

Keberadaan usaha pembibitan ini juga menjadi daya tarik warga luar kota datang ke desa ini. Jika dulu, kata Soleh, hanya bibit pepaya yang dikembangkan. Kini, makin beragam. Berbagai tanaman sayur dan buah dibibitkan. Seperti bibit cabai, tomat, terung, brokoli, pepaya dan melon.

Poniti, salah satu warga yang menekuni usaha pembibitan. Wanita asal Dusun Kranganyar ini sudah menekuni usaha ini sejak tahun 1987. Dia merupakan orang yang ikut merintis usaha penbibitan ini.

“Dulu awalnya, bibit pepaya Thailand yang kami kembangkan, “ ungkapnya. Lambat laun, banyak permintaan dari para pelanggan untuk bibit sayur mayur. Saat ini, selain bibit pepaya Thailand dan California, berbagai bibit sayur mayur dia kembangkan. Seperti cabai, tomat, terong, tomat dan brokoli.

“Harga tergantung jenis,” tambahnya. Menurutnya, harga masih murah. Seperti, harga bibit cabai Rp 100 per batang, pepaya Rp 500 per batang dan terong Rp 120 per batang. Menurut Poniti, jika harga cabai mahal, bibit cabai ikut laris, harganya juga naik. Poniti mengaku bertahan dengan usaha ini karena hasilnya lebih menjanjikan. Dibantu 4 karyawan, per hari dia bisa melayani ribuan pesanan bibit. “Jika sedang ramai bisa lebih dari 5.000 bibit per hari,” ucapnya. Pelanggannya datang dari berbagai daerah. Seperti kawasan Banyuwangi, Jember, Situbondo hingga Bali.

Hal senada dilakoni Lasmi. Dia sudah menekuni usaha pembibitan sejak 25 tahun silam. Per hari rata-rata dia bisa melayani pesanan bibit sampai 20.000 bibit. Usaha pembibitan ini merupakan usaha pokok. Menurutnya, harga bibit berdasarkan kesepakatan bersama. Tak ada persaingan dengan sesama pelaku usaha. Justru saling bantu. Saat ini, media tanam masih membeli dari luar desa. Sekali beli, wanita asal Dusun Karanganyar ini bisa sampai 50 karung, habis dalam sebulan. Selain melayani pembeli yang datang ke tempat usahanya, secara rutin dia juga mengirim bibit ke Bali. Dari usaha ini Lasmi bisa mengantongi omzet Rp 3 juta hingga Rp 5 juta per bulan.

Desa Karangsari juga dikenal sebagai penghasil singkong. Jenis tanaman ini sangat cocok ditanam di kawasan desa yang memiliki jenis tanah liat ini.

Melimpahnya singkong membuat warga kreatif. Merka membuat berbagai olahan singkong. Seperti kerupuk samiler. Bahkan sejak dulu warga Dusun Mangli dikenal menekuni usaha tape. Banyaknya warga yang menekuni usaha tape, membuat dusun ini dikenal sebagai daerah “tapean”.

Usaha pembuatan tape ini ditekuni warga sejak turun temurun. Sampai kini, beberapa warga masih bertahan menekuni usaha ini. Nur Hasanah salah satunya. Bersama sang suami, ibu dua anak ini menekuni usaha tape sejak tahun 2007. “Dulu ini, usaha mertua,” ucapnya. Di awal usaha, Nur dibantu karyawan bisa membuat 3 – 3,5 ton tape per hari.

Kini, seiring banyaknya pengusaha tape, pihaknya dibantu 7 tenaga kerja, hanya mampu membuat 1 ton tape per hari. “Tiap hari, tape dikirim ke Bali,” ucapnya. Di rumahnya yang berada di Dusun Mangkli, proses produksi dilakukan. Per hari, Nur mengaku bisa mengolah 4 ton bahan baku singkong. Prosesnya sederhana. Setelah  singkong dikupas, dicuci bersih, lalu  direbus selama 1,5 jam. Setelah matang, didinginkan, lantas diberi ragi. Setelah itu, langsung dikemas dalam wadah tas kresek. Kemudian,  dikirim ke Bali dalam kondisi belum masak. Harga jual tape singkong ini, Rp 3.500 per kilogram.

Bahan baku, Nur mengaku tak pernah terkendala. Karena stok melimpah. Selain dari kawasan desa setempat, pasokan singkong didatangkan dari kawasan Sidomulyo, Sempu dan daerah Sugihwaras, Glenmore. Dari petani, harga singkong dihargai Rp 1.000 per kilogram.  Selain usaha tape, Nur menekuni usaha pemasokan singkong ke pabrik tapioka di Kediri. Sekali kirim bisa 18 ton. Nur mengaku bisa mengantongi keuntungan Rp 50 per kilogram singkong.

Usaha pembuatan tape singkong juga ditekuni Sumiati. “Usaha ini usaha warisan orangtua,” ucapnya. Sama halnya dengan pelaku usaha tape lainnya, dia membuat tape untuk memenuhi permintaan dari Bali. Dibantu 7 karyawan, per hari bisa mengolah 800 kilogram tape. Menghabiskan bahan baku 1 ton singkong. (tin)