Ayam Ingkung Bumbu Kuning Mulai Dilirik

88
Wakini menyiapkan bahan ayam ingkung. (foto/bb/ida)

gENTENG – MASAKAN tradisional,  terutama berbahan ayam saat ini paling laris, diminati. Terbaru, kuliner ayam ingkung berbumbu mulai dilirik. Usaha kuliner ini ditekuni Wakini di Dusun Temurejo, Desa Kembiritan, Genteng.

Ayam ingkung bahannya ayam kampung jantan. Biasanya digunakan untuk acara selamatan. Dahulu, sebagai pelengkap nasi gurih. Yang unik, ayam ingkung yang dilumuri bumbu dibuat mirip posisi duduk. ” Ini yang sulit, membuat posisi ayam ingkung seperti duduk,” kata Wakini kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Belakangan, ayam ingkung ini banyak dipesan. Biasanya yang berbobot 1,5 kilogram. Keahlian membuat ayam ingkung ini didapat dari warisan turun temurun. “Hampir setiap minggu ada pesanan ingkung,” ujarnya.

Proses pembuatan ingkung, kata perempuan 40 tahun ini, sedikit rumit. Untuk mendapatkan rasa istimewa, pihaknya menggunakan bumbu rempah. Seperti, kunyit , jahe, kemirih dan lainnya. Kemudian, direbus dengan santan sampai bumbu meresap sekitar 1 jam. Namun posisi ayam tetap tidak berubah, mirip  duduk.

Satu ekor ayam ingkung dihargai Rp 150.000 hingga Rp 300.000, tergantung ukuran ayam. Pesanan tak hanya datang dari kota Banyuwangi. Beberapa datang dari Surabaya. Bagi pelanggan luar kota, Wakini hanya  membentuk ingkung dan borehan bumbu. Tujuannya, rasa ayam tak berubah. Biasanya, para pemesan datang sendiri ke rumahnya.  Kemudian,  memilih ayam kampung di kandang yang sudah disiapkan. Ayam ingkung bisa disantap bersama nasi gurih atau nasi uduk dengan sambal merah sebagai pelengkap.

Untuk memasak, Wakini dibantu satu orang kerabat. Jika banyak pesanan, dia dibantu dua orang tetangga. Permintaan akan meningkat ketika musim selamatan. “Pesanan bisa tembus 20 ekor sehari,” ujarnya.

Untuk menghasilkan rasa yang enak dan khas, Wakini memilih memasak menggunakan tunggku kayu. Sehingga, daging ayam bisa matang merata. Omzet usaha ini rata-rata Rp 2 juta per bulan. Usaha ini kata dia kerap terganjal bahan ayam kampung. Apalagi, ketika musim penyakit ayam. Pihaknya harus jeli memilih ayam yang sehat. Jika begitu, Wakini akan terjun sendiri memilih ternak ayam.

Menjaga kualitas rasa dan bentuk agar tetap menarik menjadi kunci membuat pelanggan bertahan. Tak heran, sejak enam tahun lalu, pelanggan Wakini tetap tak bergeming. Wakini bermimpi bisa membuat rumah makan khusus menu tradisional. Sehingga kaum muda tidak melupakan tradisi dan aneka masakan kuno. (ida)