Slamet Sumarto Boyong Penghargaan Banyuwangi Sehat 2017

Slamet Sumarto. (foto/bb/wid)

Banyuwangi – KIPRAHNYA menciptakan inovasi untuk lingkungan di Banyuwangi tidak diragukan lagi. Sejak menjabat Kabid Kebersihan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Banyuwangi, pemilik nama lengkap Slamet Sumarto ini sudah dikenal dengan terobosan-terobosan berkaitan lingkungan. Hasilnya, empat tahun terakahir, beberapa konsepnya diganjar penghargaan. Salah satunya, penghargaan bergengsi Swastisaba Wiwerda yang diraih tahun 2017.

Selalu bekerja dibalik layar. Namun konsep-konsepnya tak sekadar menjadi teori di meja pertemuan. Sebab, setiap konsep yang dibangun akan langsung di eksekusinya. Itulah yang kerap dilakukan pensiunan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Banyuwangi ini.

Sejak lepas dari DKP, pria kelahiran 1956 ini  tak bisa berpangku tangan. Tahun 2014, ia didaulat oleh Dinas Kesehatan memegang kemudi Forum Banyuwangi Sehat (FBS). Dan, setelah satu tahun perjalanannya di FBS, Banyuwangi berhasil mendapatkan penghargaan Kabupaten Sehat atau Swastisaba Padapa. Padahal, keberadaan FBS sendiri sudah ada sejak tahun 2011.

Beragam inovasi dan aksi lapangan menjadi cara sederhana bagaimana membangun kerjasama. Dengan merangkul komunitas-komunitas peduli lingkungan, mulai dari lingkungan RT, keberadaan FBS mulai terlihat jejaknya. Tidak hanya itu, membangkitkan program-program internal yang tertidur mulai digenjot di awal tahun 2014 hingga 2015. Tahun 2016, dirinya mulai membuat konsep merangkul setiap elemen masyarakat dan perusahaan swasta untuk bisa saling terlibat dalam membangun Banyuwangi lebih sehat. Terutama, dalam hal dokumentasi kegiatan. “Secara umum, apapun penghargaannya, itu merupakan kerja keras semua pihak. Baik tim tehnis Forum Banyuwangi Sehat, tim pembina dan tim kecamatan maupun desa/kelurahan.” kata Slamet saat berbincang dengan Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Tidak bisa dipungkiri, meski Slamet Sumarto menutup diri, namun jelas terlihat jika beberapa kegiatan yang dilakukan tak lepas dari jiwa relawannya yang kental. Sehingga dalam beberapa kegiatan yang dilakukan, dirinya tak segan-segan merogoh kocek sendiri. Tujuannya, kegiatan bisa lancar. Hal tersebut dilakukan untuk menunjukkan bawah aksi lebih penting daripada terjebak dengan peraturan institusi yang ribet.

Slamet Sumarto  dilahirkan di Kota Jombang, tahun 1956. Meski orang luar Banyuwangi, namun sejak kecil dan masa sekolah dihabiskan di Banyuwangi. Tercatat, Slamet Sumarto masuk SD Boyolangu, kemudian melanjutkan ke SMP dan STM di Banyuwangi. Bahkan kuliah, pria yang kini berusia 61 tahun tersebut, mengambil jurusan tekhik di salah satu perguruan tinggi di Banyuwangi. Perjalanan hidupnya yang sering pindah tempat, karena sang ayah merupakan tentara, telah menempanya tetap tangguh. Penuh kedisiplinan tinggi.

Slamet mengawali karir sebagai pesapon dan tukang potong rumput  di lapangan Blambangan, stadion dan Taman Makam Pahlawan. Akhirnya membawa Slamet Sumarto muda masuk di kantor Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Banyuwangi. Sejak di lingkaran  Dinas Pekerjaan Umum, Slamet, panggilan akrabnya, menggagas gerakan P2JD (Program Pemeliharaan Jalan Desa). Kemudian, pindah kerja di Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Banyuwangi. Sebelum kembali menduduki jabatan terakhirnya sebagai Kepala Bidang (Kabid) Kebersihan, Slamet bertugas di Inspektorat Kabupaten Banyuwangi.

Dari berbagai pengalaman di dunia birokrasi , tak membuat dirinya terlena dengan program-program yang hanya bersifat seremonial. Baginya, setiap konsep maupun perencanaan yang dibangun menjadi tanggungjawabnya. Sehingga, ia tak ingin terjebak dalam dinamika buku-tutup kegiatan, tanpa mengetahui dan mengevaluasi dari proses yang dilakukan. “Pengabdian itu berat. Supaya tidak berat, maka kita harus mau benar-benar bekerja. Sebab yang paling berat itu adalah saat kita punya ide, tapi orang lain yang mengeksekusi. Itu sama dengan bohong,” ungkapnya.

Tak heran, dalam beberapa kesempatan, dirinya harus turun sungai dan bercelana pendek. Memantau dan membantu anak buahnya ketika masih menjabat Kabid kebersihan. Tak jarang, ia juga akan menjadi sopir saat beberapa armada pengangkut sampah kekurangan tenaga. Beberapa kali,dia ikut mendorong truk penuh sampah karena mogok maupun ngadat di tengah jalan.

Dari pengalaman tersebut, ia terapkan dalam Forum Banyuwangi Sehat. Meski semua tim bersifat relawan, namun bukan berarti semua bisa berpangku tangan. Sehingga, ia membuat konsep setiap relawan atau tim tehnis Forum Banyuwangi Sehat diberi tanggungjawab di masing-masing kecamatan.  “Memang tidak mudah masuk ke lembaga pemerintah untuk meminta dokumentasi kegiatan-kegiatan yang telah di lakukan. Sebab, garis komando telah menjadi pembatas untuk berkreativitas,” ungkapnya.

Disela-sela kesibukannya mensosialisasikan kebersihan lingkungan, pria yang dikenal ulet ini terus melakukan pemantapan kelompok kerja di 17 kecamatan dan desa. Bahkan, melakukan kegiatan pelatihan IT di jadikan program kerja, sebagai sarana komunikasi antartim kecamatan. Tahun 2018, ia sudah mempersiapkan program penambahan kecamatan dan inovasi kegiatan lainnya. “Sebagai relawan kita harus terus melakukan inovasi, jangan sampai terjebak dengan birokrasi. Sebab, kalau kita terjebak dengan birokrasi, maka program apapun akan jalan di tempat,” tuturnya. Tapi, kata dia, bukan berarti birokrasi itu buruk. Hanya, perlu dipilah mana yang urgent dan mana yang dinamis.

Berkat keuletannya, tahun 2017, Banyuwangi mendapat penghargaan Swastisaba Wiwerda pertama kalinya sebagai kota atau kabupaten dengan status sehat. “Ini semua kerja tim, bukan hanya saya. Semua telah memiliki kontribusi membangun Banyuwangi lebih sehat dan lebih asri,” tegasnya merendah.

Apa yang mendasari Slamet Sumarto terus aktif dalam pembinaan dan pengembangan lingkungan di Banyuwangi ? Dengan senyumnya yang khas, pria yang gemar bercocok tanam di rumah ini mengaku motivasinya cukup sederhana. “Ketika kita mencintai lingkungan, maka lingkungan pun akan mencintai kita,” tuturnya.

Ditambahkan, Banyuwangi merupakan wilayah yang terbilang masih ramah lingkungan. Memiliki sarana dan prasarana, sumberdaya manusia dan sumberdaya alam, saling mempengaruhi untuk menentukan standar sehat. ”Sejak 2013, Banyuwangi sudah meraih piala Adipura, dan kita sebagai warga Banyuwangi, juga harus menjaga dan mempertahankannya. Sejak 2015 dan 2017  Banyuwangi sudah mendapat predikat Kabupaten Sehat, maka penting untuk menjaganya,” ujarnya lagi.

Selain itu, kata Slamet, dalam Forum Banyuwangi Sehat tahun ini, setelah pihaknya menambah 2 tatanan lagi, tertib lalu lintas dan transportasi sehat dan tatanan pariwisata sehat. Tahun depan, pihaknya akan menambah 2 tatanan lagi untuk bisa mendapatkan  predikat yang lebih tinggi. Dengan tambahan 2 tatanan tersebut diharapkan menjadi pekerjaan rumah bagi dirinya dan tim FBS. Sehingga, bisa terus melakukan inovasi dan kreativitas. Menciptakan bumi, laut dan udara di Banyuwangi tetap sehat. Meski demikian, dirinya tidak menampik bila salah satu motivasinya menambah 2 tatanan tersebut untuk meningkatkan status Banyuwangi dari penghargaan kedua, Swastisaba Wiwerda atau Pembinaan menjadi Swastisaba Wistara atau Pengembangan. “Tahun 2018, kami berencana menambah 2 tatanan lagi. Karena Banyuwangi mempunyai potensi tersebut. Rencananya tatanan Ketahanan Pangan dan Gizi dan yang masih digodok adalah Tatanan Kawasan Hutan Sehat,” pungkasnya. (wid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here