Rumah Kerupuk, Pesanan Tak Pernah Sepi

84
Rumah kerupuk yang selalu ramai permintaan. (foto/bb/tin)

Jajag – KERUPUK,camilan satu ini banyak diburu. Permintaan kerupuk tak mengenal waktu. Hal ini membut pria bernama Dhani ini tertarik membuka usaha rumah kerupuk. Usaha rumah kerupuk “Dhani Jaya” di kawasan Petaunan Jajag ini menyediakan berbagai jenis kerupuk. “Saya buka usaha ini baru Aril 2017 lalu,” kisahnya kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Dia mengaku tertarik membuka usaha toko kerupuk karena usaha ini belum banyak pesaing. Dengan merogoh kocek Rp 13 juta, dia merintis usaha ini. Stok kerupuk diambil langsung ke agen di Genteng dalam kemasan per bal. Sesampai di toko, kerupuk tersebut dikemas kecil-kecil, ukuran satu kilogram dan setengah kilogram. “Saya buat kemasan kecil untuk memudahkan konsumen,” ucapnya.

Keistimewaan belanja di tokonya menyediakan berbagai jenis kerupuk secara lengkap. Tersedia 60 jenis kerupuk. Seperti kerupuk udang, kerupuk puli, kerupuk kromoleo, kerupuk pentol dan kerupuk mawar  pedas. Dari harga paling mahal Rp 17.000 per setengah kilogram sampai paling murah Rp 6.000 per setengah kilogram. Menurutnya, saat ini kerupuk kepiting paling laris.   “Bulan puasa lalu, paling laris kerupuk udang,” ucapnya. Soal harga menurutnya tak beda jauh dari pemilik agen di Genteng. Pihaknya berani mengambil untung lebih sedikit.

Para pelanggan rata-rata dari kawasan setempat. Mereka memilih datang ke tokonya daripada harus ke Genteng, karena selisih harga tak banyak.  Jam buka toko mengikuti kegiatan pasar pagi dan pasar sore Jajag. Menurut Dhani, usaha kerupuk ini nyaris tanpa ada kendala. Apalagi dalam memilih kerupuk, dia memilih konsultasi dengan pelaku usaha agen. “Hanya jenis kerupuk yag laris yang saya beli,” ucapnya.

Musim penghujan menurutnya permintaan kerupuk tak mengalami lonjakan. Semuanya masih normal. Kini, tak hanya kerupuk, dirinya mulai menyediakan kebutuhan sembako di tokonya. Seperti minyak goreng dan beras. Hal ini seiring dengan permintaan pelanggan,” tambahnya. Dari usaha ini, dia mengaku mendapat omzet Rp 700.000 hingga Rp 1,2 juta per hari. (tin)