Forum Banyuwangi Sehat Dua Kali Boyong Penghargaan Kabupaten Sehat

42
Tim FBS yang aktif menyuarakan kampanye hidup sehat. (foto/bb/wid)

Banyuwangi – PRESTASI Banyuwangi terus bertambah. Tak hanya inovasi layanan atau transparansi keuangan. Terbaru, Banyuwangi menyabet penghargaan Swastisaba Wiwerda atau kabupaten sehat. Penghargaan bergengsi dari pemerintah pusat ini sudah dua kali mampir di Banyuwangi.  Ternyata, prestasi ini berkat kerja keras Forum Banyuwangi Sehat (FBS) yang getol mengkampanyekan penyelamatan lingkungan. Caranya, dengan pola hidup sehat.

Tahun 2015, Kabupaten Banyuwangi mendapatkan penghargaan ‘Swastisaba Padapa’. Yaitu penghargaan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Penghargaan ini merupakan bentuk penghargaan pemantapan bagi kabupaten atau kota yang ikut serta dalam penanganan lingkungan sehat.  Tahun 2017, Banyuwangi kembali mendapatkan penghargaan serupa.  Namun, naik kelas. Satu level sesuai dengan tingkat tatanan yang diikutsertakan. Yaitu, penghargaan ‘Swastisaba Wiwerda’ atau kategori pembinaan.

Semuanya berkat  perjuangan Forum Banyuwangi Sehat yang tak pernah lelah menyuarakan hidup sehat. Forum Banyuwangi Sehat (FBS) terbentuk sejak tahun 2011.  Sejak tahun tersebut, baru dua kali Banyuwangi mendapatkan penghargaan.

Ketua FBS  Slamet Sumarto menjelaskan  penyelenggaraan kabupaten atau kota sehat dilakukan melalui berbagai kegiatan. Salah satunya,  memberdayakan masyarakat yang difasilitasi Pemkab Banyuwangi. Akhirnya, Pemkab membentuk forum atau memfungsikan lembaga masyarakat yang ada. Di Banyuwangi, terbentuklah FBS, dari kabupaten, kecamatan hingga desa.

FBS kata Slamet, merupakan wadah bagi masyarakat untuk menyalurkan aspirasi. Dan, berpatisipasi menentukan arah, prioritas dan perencanaan pembangunan wilayah dengan mengintegrasikan berbagai aspek. Sehingga, dapat mewujudkan wilayah yang bersih, nyaman, aman dan sehat untuk dihuni warga.

Untuk mendukung kinerja forum, dibentuk juga tim pembina kabupaten sehat. Tujuannya, menyelaraskan kebutuhan masyarakat sesuai dengan arah pembangunan daerah, dikoordinasikan dengan Badan Perencanaan Daerah (Bappeda). Tim ini beranggotakan dari berbagai instansi terkait, ditetapkan melalui SK Bupati. “Kabupaten  sehat merupakan suatu kondisi kabupaten yang bersih, nyaman, aman dan sehat untuk dihuni penduduk. Dicapai melalui terselenggaranya penerapan beberapa tatanan dan kegiatan yang terintegrasi. Dan,  disepakati masyarakat dan pemerintah daerah,” jelas Slamet kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Tatanan tersebut, tambah Slamet merupakan  sasaran kegiatan program kabupaten sehat yang sesuai dengan potensi dan permasalahan pada masing-masing kecamatan. Menurutnya, dari 9 tatanan yang digulirkan pemerintah pusat,  Banyuwangi baru mengambil 4 tatanan. Masing-masing, tatanan Masyarakat Sehat Mandiri, tatanan Permukiman Sarana dan Prasarana Sehat, tatanan kawasan Tertib Lalu Lintas dan Pelayanan Transportasi serta tatanan Pariwisata Sehat.

Selain FBS tingkat kabupaten, juga ada Forum Komunikasi Desa Sehat. Kecamatan bertugas mengkoordinasikan, mengintegrasikan, mensinkronkan dan mensimplikasikan prioritas, perencanaan antara desa satu dengan desa lainnya di wilayah kecamatan. Program dilakukan leh masing-masing kelompok kerja (pokja) Desa Sehat. Sehingga, mampu   mewujudkan wilayah yang bersih, nyaman, aman dan sehat untuk dihuni warganya.

Selain itu juga ada pokja, di wilayah kelurahan atau desa. Pokja bergerak di bidang usaha ekonomi, sosial dan budaya dan kesehatan. Mereka menyalurkan aspirasi dan berpartisipasi dalam kegiatan yang disepakati. Sehingga dapat mewujudkan wilayah yang bersih, nyaman, aman dan sehat untuk dihuni dan bekerja. “Saat ini kami baru menggandeng 17 kecamatan dari 25 kecamatan di Banyuwangi. Pasalnya, kecamatan yang tergabung juga harus memiliki kreteria yang direkomendasikan oleh Dinas Kesehatan. Seperti bebas ODF, misalnya” ungkap Slamet di kantor FBS Jalan Letkol Istiqlah No. 42 Banyuwangi ini.

Slamet menambahkan, kesepakatan tentang pilihan tatanan kabupaten sehat ditetapkan oleh forum bersama-sama dengan pemkab. Termasuk, pelaksanaan kegiatan kabupaten sehat.  Sepenuhnya dibiayai dan dilaksanakan oleh daerah yang bersangkutan dan masyarakat. Caranya, menggunakan mekanisme pendekatan konsep pemberdayaan masyarakat dari, oleh dan untuk masyarakat. Kemudian, mengadakan evaluasi kegiatan kabupaten sehat yang dilakukan oleh forum dan pokja kabupaten sehat, bersama pemkab, LSM, perguruan tinggi, dan media massa. “Jadi, kalau Banyuwangi mendapatkan penghargaan, ya karena itu memang upaya bersama, upaya banyak pihak. Sebab, kegiatan yang dinilai itu bukan yang akan, melainkan yang telah dilakukan dua tahun sebelumnya,” kata pria yang membawahi 10 anggota FBS tersebut.

Terkait dengan penghargaan yang sudah didapatkan, Slamet menjelaskan bahwa hal tersebut berkaitan dengan jumlah tatanan yang diambil. Dilaksanakan lintas sektor selama dua tahun sebelumnya. Menurutnya, penghargaan Swastisaba berbeda dengan penghargaan Adipura yang diraih satu tahun sekali. Karena, Swastisaba hanya bisa didapatkan pada tahun ganjil untuk tingkat nasional, dimana pada tahun genapnya, kabupaten peserta akan diverifikasi oleh tim provinsi. (wid)

Galakkan RT Sehat

PERILAKU hidup sehat yang digagas Forum Banyuwangi Sehat (FBS) tak hanya pada tingkat kabupaten hingga desa. Terbaru, FBS merangkul hingga tingkat RT. Sehingga, inovasi yang digulirkan  berakar dari bawah. Untuk mendukungnya, beragam kegiatan digelar. Seperti menggelar seminar 100 RT Sehat. Tujuannya, membangun masyarakat yang tidak hanya peduli kesehatan fisik, melainkan juga non fisik. Seperti lingkungan sehat, kegiatan kerja bakti dan kampanye lingkungan di wilayah masing-masing. Pembuktian kegiatan dalam bentuk dokumentasi.

Kemudian, surat pemberitahuan dari lurah atau kades untuk menunjang penilaian, serta surat pemberitahuan dari Kepala Puskesmas dan pihak PKM setempat selaku pendamping kesehatan masyarakat.

Untuk indikator RT sehat, tim FBS  telah  mengambil beberapa indikator yang berlaku bagi kabupaten sehat. Seperti, bagaimana memperlakukan sampah, adanya toga, kebersamaan dalam senam bersama, gotong royong, keaktivan warga dalam menanggulangi jentik-jentik dan aktivitasnya selama mengikuti program puskesmas. Seluruhnya, harus dibuktikan dengan beberapa dokumentasi saat berkegiatan. Dan, setiap kecamatan akan mengirimkan dua RT yang akan mendapat pendampingan dari Pusksesmas dan FBS.

Selain inovasi RT sehat, FBS juga membuat program Forum Kecamatan Sehat. Mereka diajak aktif mendokumentasikan kegiatan. Kemudian, setelah melakukan paparan tiga bulanan selama 4 kali pertemuan, kecamatan yang aktif dan memenuhi standar indikator akan mendapatkan penghargaan dari FBS.

Hal tersebut, kata Slamet sebagai upaya mengapresiasi forum tingkat kecamatan hingga pokja dan masyarakat. Karena penghargaan yang didapatkan kabupaten berkat upaya dan semangat bersama. “Banyuwangi baru mendapatkan penghargaan Swastisaba Padapa, karena baru mengikuti  2 tatanan tahun 2015 dan sebelumnya. Lalu, mendapat penghargaan Wiwerda dengan jumlah tatanan 3 – 4 tahun ini. Jika ingin penghargaan Wistara, maka Banyuwangi bisa ikut lebih dari 5 tatananm” pungkasnya. (wid)