Angkutan Gerandong Ditertibkan Lagi

29
Polisi merazia kendaraan "gerandong" tahun 2009 silam. (foto/bb/dok)

Banyuwangi – MASIH maraknya angkutan kendaraan rakitan alias gerandong di Banyuwangi mendapat sorotan Polres.  Kendaraan ilegal tersebut dilarang beroperasi. Polres akan merazia kendaraan ini berkeliling melalui jalur provinsi dan kabupaten. Pelarangan ini dibenarkan Kapolres Banyuwangi AKBP Donny Adityawarman usia bertemu pimpinan DPRD Banyuwangi, Selasa pekan lalu.

Mantan Kapolres Trenggalek ini menjelaskan secara aturan, kendaraan tak standar dilarang beroperasi di jalan raya. Sebab, secara teknis membahayakan. Meski begitu, pihaknya tidak serta merta melarang total kendaraan rakitan itu beroperasi. ” Memang secara normatif dilarang, karena tidak sesuai aturan. Tapi, kita akan lihat konteks lokal di Banyuwangi. Ada Perda khusus atau seperti apa,” kata Kapolres yang baru sehari menjabat di Banyuwangi ini.

Terkait pelarangan ini, pihaknya berkoordinasi dengan menjalin komunikasi dengan jajaran DPRD. Pihaknya juga akan menjalin koordinasi dengan Pemkab. ” Kebetulan, Bupati masih ke luar daerah. Kita akan komunikasikan dulu,” tegasnya.

Terpisah, Kasat Lantas Polres Banyuwangi AKP Ris Adrian mengatakan pelarangan kendaraan rakitan memang sesuai aturan. Sebab, kondisi kendaraan rakitan tidak sesuai spek teknis kendaraan. Karena itu, pihaknya segera melakukan penertiban kendaraan ilegal tersebut. ” Jadi, setiap saat jika ada kesempatan kita lakukan razia. Termasuk becak motor dan kereta kelinci,” jelasnya. Pihaknya berharap, angkutan tak standar ini tak melintasi jalanan yang padat kendaraan. Sebab, sangat membahayakan.

Gerandong atau kendaraan rakitan pernah booming di Banyuwangi sekitar tahun 2000. Banyak bengkel merakit kerangka truk atau kendaraan kecil menjadi kendaraan rakitan. Otomatis tanpa kelengkapan surat izin. Dahulu, gerandong banyak dipakai angkutan barang dan material bangunan, mirik kendaraan truk. Namun, sekitar tahun 2009, Polres Banyuwangi sempat melakukan pelarangan, termasuk razia besar-besaran. Sejak itu, kehadiran gerandong mulai menghilang. Belakangan, gerandong tetap bertahan. Namun, bukan angkutan barang, tetapi penggilingan padi keliling. Parahnya, kendaraan ini hanya menggunakan tiga roda. Sehingga, sangat membahayakan keselamatan. (udi)