Susiyati, Lebih Mahal Pakai Pewarna Alam

7
Susiyati dengan latar belakang batik hasil kreasinya. (foto/bb/wid)

Kabat – EVEN Banyuwangi Batik Festival (BBF) benar-benar membawa berkah bagi para pengrajin batik di bumi Blambangan. Salah satunya, Susiyati, pemilik rumah batik “ Gondho Arum” di Desa Pakistaji, Kecamatan Kabat. Belakangan, butik sekaligus rumah produksi yang dikelolanya terus kebanjiran order. Bahkan, mampu mempekerjakan 22 orang karyawan. Satu yang menjadi ciri khas buatannya adalah menggunakan pewarna alami. Seperti apa keunikannya ?

Susi, panggilan akrabnya, mulai membuka usaha tahun 2012. Berawal pelatihan dari Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pertambangan (Disperindagtam) Banyuwangi. Diapun membuat modifikasi batik, termasuk motif baru tana menghilangkan ciri khas batik Banyuwangi. Ciri khas lainnya adalah karakter pewarnaan yang kuat.

Empat tahun merintis, perjuangan Susiyati membuahkan hasil menggembirakan. Banyak tokoh penting menggunakan jasanya untuk kegiatan formal maupun nonformal. Dari sekian motif, Susiyati berani memadukan tujuh sampai sembilan warna dalam satu motif kain batik. Semakin banyak warna dibuat, proses produksinya lebih lama.

“Yang paling banyak warna itu, jenis semi tulis. Itu ada 7 sampai 9 warna. Kalau yang jenis tulis sampai setengah bulan, jika sembilan warna. Kalau yang colet (cetak) seminggu jadi,” kata Susi kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Susi mendesain rumahnya menjadi butik. Beragam model kain batik berjajar dengan rak-rak kayu. Mulai jenis batik cap, semi tulis dan tulis (canting). Seluruhnya menggunakan pewarna alam dan sintetis. Dia mengaku, tak mudah membangun rumah batik, penuh liku-liku dan keras keras.  Batik pewarna alam kata dia yang paling mahal. “Proses produksi batik dengan pewarna alam, membutuhkan waktu lama. Terutama proses membuat pewarna alam dari daun dan pepohonan, sampai produksi. Hal ini membuat batik dengan pewarna alam, mencapai harga paling tinggi.” ungkapnya.

Harga batik beragam, tergantung bahan dan motif. Batik cap rata-rata Rp 75.000 hingga Rp 100.000 per lembar. Sedangkan semi tulis mencapai Rp 100.000 ke atas, sedangkan tulis bisa Rp 450.000 hingga Rp 600.000. Termahal batik dengan pewarna alam hinga Rp 1 juta.

Ada berbagai motif batik hasil kreasinya. Ada yang mengembangkan kreasi lama, ada juga modifikasi pribadi. Seperti, motif gandrung, liris manis, jolo dan kawung bungkul. Ada juga kombinasi motif asli, seperti gajah oling, kangkung stingkes dan paras gempal. “ Jadi kita modifikas, termasuk warnanya,” jelasnya.

Pesanan batik tak hanya lokal Banyuwangi. Sejumlah daerah, seperti Gresik, Madura dan Jakarta banyak memesan ke tempatnya. Seluruh produksi dilakukan di belakang rumah. Kebanyakan, para tenaga kerja adalah kaum ibu. Rumah batik miliknya mampu mengurangi angka pengangguran di derahnya.

Menurut Susi, beberapa tokoh yang pernah menggunakan batiknya adalah artis Danang dan Yuni Shara. “Yuni Shara pernah menggunakan batik ini untuk BBF. Kalau Danang itu langganannya ke sini,” pungkasnya. (wid)