Indah Yeni, S.H., Pegang Teguh Idiologi Kerakyatan

99
Bersama sang suami yang juga Ketua DPRD Banyuwangi. (foto/ist)

IDIOLOGI kerakyatan yang digaungkan Sang Proklamator RI, Bung Karno menjadi nafas dari sosok Indah Yeni, S.H. Semangat mengabdi ini membawanya terpilih sebagai Ketua Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Banyuwangi, periode 2017-2022. Sebagai kaum hawa, dia ingin menggaungkan semangat emansipasi dalam pembangunan. Salah satunya, berjuang lewat organisasi. Baginya, selalu hadir di tengah-tengah rakyat menjadi cara ampuh mewujudkan kesejahteraan. Apa saja program unggulannya ?

Riuh tepuk tangan para alumni GMNI Banyuwangi bergemuruh dari salah satu aula, belum lama ini. Lewat aklamasi, mereka kompak memilih Indah Yeni menjadi nahkoda organisasi, lima tahun ke depan. Bukan tanpa alasan. Yeni, panggilan akrabnya, dinilai tepat menjadi kapten “tangguh” dengan ratusan kader itu. Jiwa ngopeni dan peduli, membuat sejawatnya menjadikan calon tunggal dalam Koferensi Cabang (Konfercab) PA GMNI Banyuwangi, 4 Februari 2017.

Tak hanya itu, Yeni juga dikenal kuat memegang prinsip Marhaen atau kerakyatan. Persis ajaran Bung Karno. ” Sebenarnya masih banyak yang lebih baik untuk memimpin. Tapi, sebagai kader, saya tak bisa menolak ketika didaulat membawa gerbong PA GMNI Banyuwangi,” kata istri Ketua DPRD Banyuwangi, Made Cahyana Negara ini saat berbincang dengan Bisnis Banyuwangi, pekan lalu. Bagi Yeni, mendapat kepercayaan dari sejawat organisasi adalah amanah. Jadi, wajib dijalankan sepenuh hati.

Jiwa berorganisasi yang dimiliki Yeni tumbuh sejak kecil. Bisa dibilang, menjadi panggilan jiwanya. Maklum, sang ayah adalah kader PDIP. ” Sejak kecil saya memang menyukai sosok Bung Karno. Ketika masih kecil pernah ikut kegiatan kampanye. Naik truk ramai-ramai. Jadi, tertarik ikut organisasi,” kenang wanita kelahiran 12 Maret 1982 ini. Kebetulan, lingkungan kelahiran Yeni di Cawang, Singojuruh dikenal sebagai basis pendukung Nasionalis. Kondisi ini membuat jiwa organisasinya tumbuh. Ketika masih belia, alumnus SMPN 1 Rogojampi ini sempat bercita-cita menjadi Ketua DPRD Banyuwangi. Alasannya, agar bisa memegang palu kebijakan untuk rakyat.

Tak hanya berorganisasi, Yeni selalu kagum dengan kisah Sang Proklamator. Ketika SMP, guru Biologinya selalu menceritakan perjuangan Bung Karno. Sehingga, kekagumannya makin kokoh. Dia juga rajin mengikuti berita-berita politik di televisi. Salah satunya, karir Megawati Soekarno Putri, sang nahkoda PDIP. ” Saya senang melihat berita politik di televisi. Seperti saat Bu Megawati berorasi politik dan lainnya,” jelasnya. Bahkan, Yeni sempat taruhan kemenangan dalam Pilpres ketika masih di bangku SMA.

Semangat berorganisasi mulai dituangkan saat masuk SMA, tepatnya di MAN Banyuwangi. Yeni bergabung dalam OSIS. Dari sini, jiwa berorganisasi kian terasah. Puncaknya, ketika i menjadi mahasiswi Untag’45 Banyuwangi, tahun 2003. Pilihannya jatuh ke organisasi GMNI. ” Awalnya, saya tidak tahu organisasi kemahasiswaan. Saat diajak masuk GMNI, saya langsung tertarik, gara-gara lihat logo kepala banteng,” kenang ibu dari Andhaka Satria Negara, Anugerah Abdi Negara dan Simfony Nata Negara ini. Di GMNI, dirinya banyak belajar tentang kerakyatan, terutama ajaran Bung Karno. Tak sekadar pintar berpidato, menurutnya, Bung Karno mampu membuktikan komitmen untuk negara dan rakyat.

Berkat semangatnya ini, Yeni didapuk menjadi Kepala Bidang Organisasi GMNI Banyuwangi. Saat bersamaan, dia terpilih sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Untag’45 Banyuwangi. Jiwa organisasinya kian matang setelah terpilih menjadi Wakil Ketua PAC PDIP Singojuruh. Setelah itu, karir organisasinya terus menanjak. Hingga menempati posisi anggota Departemen Perempuan dan Anak di DPC PDIP Banyuwangi, ketika kepemimpinan Yusuf Widiatmoko. Tahun 2009, Yeni memantapkan langkahnya menjadi calon legeslatif (caleg) DPRD Banyuwangi dari Dapil II. Sayang, Dewi Fortuna belum berpihak.  Justru, sang suami yang lolos dari Dapil I, hingga dua periode. Kini, cita-citanya menjadi Ketua DPRD tercapai di tangan sang suami yang juga Ketua DPC PDIP Banyuwangi.

Sibuk sebagai istri jajaran Forpimda dan Ketua PA GMNI Banyuwangi, tak membuat Yeni meninggalkan kodrat sebagai ibu rumah tangga. Di sela kesibukan, dia selalu memperhatikan perkembangan anak-anaknya. Termasuk, mendukung tugas suami. ” Kita boleh sibuk berorganisasi, tapi tugas utama sebagai wanita harus tetap jalan,” tegasnya semangat. Kebetulan, sang suami juga mendukung karirnya berorganisasi.

Kenapa memilih organisasi politik ? Menurut Yeni, organisasi sudah menjadi panggilan jiwa. Dia mengaku pernah lama bekerja di dua bank nasional. Namun, tetap saja tak bisa meninggalkan organisasi. ” Memang sudah panggilan jiwa. Tak bisa dipungkiri,” jelas wanita yang kini menempuh S2 tersebut.  Dengan berorganisasi, dirinya bisa berjuang untuk rakyat. (udi)

Kaum Wanita Jangan hanya di Dapur  

TAK sekadar mengamalkan ajaran Bung Karno, semangat Indah Yeni berorganisasi ingin mengajak kaum wanita ikut membangun. Menurutnya, kaum wanita memiliki peran vital dalam pembangunan negara. Salah satu faktor pembangunan, yakni sumberdaya manusia (SDM), keberhasilannya di tangan kaum wanita. ” Baik tidaknya SDM suatu negara, ada di tangan wanita. Sebab, wanita yang mendidik karakter anak-anak,bahkan mulai dari kandungan,”  jelasnya.

Semangat emansipasi ini menjadi salah satu program unggulan dari PA GMNI Banyuwangi yang dikendalikannya. ” Saat ini, kaum wanita jangan hanya di dapur, di sumur dan di kasur. Tapi, harus ikut dalam pembangunan,” jelasnya lagi. Ditambahkannya, dalam Pancasila dan UUD 1945, tak ada perbedaan antara kaum laki-laki dan perempuan dalam pembangunan. Sehingga, memiliki hak dan kewajiban sama.

Yeni juga membuat perubahan di PA GMNI. Ditegaskan, kader PA GMNI tak hanya piawai berorasi. Namun, masuk ke semua bidang sesuai kemampuan masing-masing. Sehingga, bisa ikut menuangkan idiologi Marhaen dalam kebijakan di daerah. ” Bagi yang mau menjadi politisi, akademisi, silahkan. Kita lakukan pemerataan semua kader untuk menerapkan ajaran kerakyatan sesuai falsafah Bung Karno di semua lini,” tegasnya. Lewat organisasi, pihaknya menolak tegas paham radikalisme yang mengancam keutuhan Pancasila dan NKRI. ” PA GMNI akan menjadi garda terdepan mempertahankan idiologi Pancasila. NKRI adalah harga mati,” pungkas Yeni seraya mengucapkan Dirgahayu Pancasila, 1 Juni. (udi)