Nasbung Sambal Ijo … Murah, Omzetnya Melimpah

Susiyati dengan latar belakang batik hasil kreasinya. (foto/bb/wid)

JANGAN remehkan pendapatan dari berjualan nasi bungkus (nasbung). Seperti, nasbung sambal ijo andalan warung “Bu Poer” di Jalan PB Sudirman, utara simpang lima Banyuwangi. Nasbung buatannya belakangan makin dikenal. Berada di pinggir jalan raya, warung ini buka mulai pukul 07.00 hingga 21.00 WIB. Tempat ini pas menjadi tempat makan. Mulai sarapan, makan siang hingga makan malam. Tempatnya yang nyaman dan bersih, cocok untuk sekadar nongkrong bersama keluarga, kerabat dan sahabat.

Beragam menu tersedia. Namun, nasbung sambal ijo yang paling laris. Harganya terjangkau, hanya Rp 5.000 per porsi. Pengunjung sudah mendapatkan nasi hangat dengan suwiran ayam goreng, sambal ijo pedas dibungkus daun pisang. Ada juga empat jenis nasi yang bisa dipilih. Mulai nasi jagung, nasi putih, nasi gurih (uduk), dan nasi merah. Cara membungkusnya unik. Dibentuk seperti gunungan atau kerucut, agar lebih mudah saat dikonsumsi.  “Jika mau tambah lauk juga boleh. Ada macam-macam mulai tahu fantasi, ikan laut, telur dadar, oseng-oseng mercon dan berbagai jenis sayuran. Harganya beda-beda, tapi sangat terjangkau,” kata Purnomowati, pemilik warung “Bu Poer” kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Perempuan yang akrab di panggil Bu Poer tersebut mengaku sudah dua tahun ini mengelola warung. Susah memiliki banyak  pelanggan tetap, termasuk wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi. “Banyak yang ke sini mulai dari orang luar kota sampai bule-bule. Ada yang makan sini, ada juga yang pesan nasi bungkus dibawa pulang. Ya, yang favorit ya nasi bungkus sambal ijo,” jelasnya. Untuk menjaga rasa menu di warungnya, Bu Poer langsung turun tangan ke dapur untuk memasak. Biasanya, dia memasak pada pagi hari untuk menu sampai siang, dan sore hari untuk menu hingga malam hari. “Biar fresh,” katanya.

Bukan hanya nasi bungkus, warungnya juga menyediakan nasi gudeg. Rasanya tidak jauh beda dengan tempat asalnya, Yogyakarta. Bu Poer mengaku sengaja memilih nasi gudeg sebagai salah satu menu andalan. Karena, suaminya asli Yogyakarta. Dia juga pernah tinggal di Yogyakarta. “Ceritanya saya ini pulang kampung karena nggak ada kegiatan, jadi ya jualan lagi. Dibuatin warung sama anak buat kesibukan,” katanya sambil tersenyum.

Bu Poer merintis warung nasi bungkus sejak tahun 1987. Saat itu, perempuan yang hobi memasak tersebut menerima pesanan katering dari beberapa pabrik di Banyuwangi. Pada tahun 1995, dia berjualan menggunakan mobil yang dimodifikasi menjadi seperti warung. Sehingga, bisa jualan keliling di wilayah kota Banyuwangi.

“Waktu itu mobil nganggur di rumah, akhirnya saya rombak semuanya. Bagian belakang bisa dibuka dan dibuat meja dikasih kursi. Saya masak sendiri, saya sopiri sendiri. Waktu itu masih belum ada yang jualan pakai mobil. Saya berangkat jam 9 dan jualan di depan bank, terus pindah lagi dan itu berjalan hingga 2 tahun. Tahun 1997 saya pindah ke Yogyakarta,” kenangnya. Di kota pelajar tersebut, dia kembali mencoba peruntungan dengan berjualan nasi bungkus. Menyewa warung kecil di dekat Atmajaya, tepatnya di Jalan Merican.

Ia menjual sego penyet khas Banyuwangi. Tidak disangka, warung tersebut berkembang pesat, hingga memiliki enam cabang di Yogyakarta. Jumlah karyawan mencapai 100 orang.
“Saat reformasi, tepat di depan warung saya ada demo dan ada yang meninggal. Namanya Moses Gatotkaca. Sejak itu jalan depan warung saya diganti namanya dengan Jalan Moses dan warung saya sempat pindah ke Kaliurang,” kenangnya lagi.

Hingga saat ini, ada empat warung sego penyetan khas Banyuwangi yang dimilikinya di Yogyakarta, dikelola oleh anaknya. Tahun 2013, dia memilih pulang ke kampung ke Banyuwangi. Lalu, kembali berjualan menggunakan mobil di wilayah Pantai Boom. Karena langganannya semakin banyak, ia kemudian memilih berjualan di warung dan menetap. “Anak saya yang buatkan warung ini. Katanya buat hiburan saya di Banyuwangi dan nggak nyangka warungnya juga ramai seperti yang ada di Yogyakarta,” katanya.

Dijelaskan, niatnya membuka warung bukan sekadar mencari uang. Di warung tersebut, dia  mengaku bisa bertemu dan bersilaturahmi dengan banyak orang. “Usia saya sudah masuk usia pensiun, tapi nggak mau kalau diam saja di rumah. Di sini kan bisa masak, bisa ngobrol dengan banyak orang, jadi lebih senang saja,” ujarnya. Yang istimewa, setiap Februari, dalam satu hari, semua semua penghasilan yang didapatkan di warung tersebut disumbangkan untuk anak yatim piatu, serta orang yang tidak mampu. “Biar berkah dan semua orang bisa ikut senang,” pungkasnya. (wid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here