Layak Ditiru, Merintis Usaha Tanpa Modal

255
Personel BMC yang menawarkan produk murah. (foto/BB/tin)

AKRAB dan bersahabat, itulah sosok pengusaha muda satu ini. Meski, usianya terbilang masih cukup muda, namun, piawai merintis beberapa usaha. Salah satunya pemilik BMC (Bos Muda Computer) yang buka di kawasan Desa Kebondalem, Bangorejo. Pria bernama lengkap Ahmad Haeroni ini mengaku merintis usaha dari nol, bahkan tanpa modal. Roni begitu dia disapa mengaku menerjuni bidang IT dari nol. Dari sebelumnya tak tahu apa-apa tentang IT. Sebelum merintis usaha sendiri, Roni bekerja ikut orang di sebuah perusahaan IT di Malang.

“Tamat SMA, saya langsung bekerja,” ucapnya kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu. Keinginannya untuk kuliah kandas lantaran keterbatasan ekonomi keluarga. Meski tak mengantongi pengalaman kerja di bidang IT, dia membulatkan tekad merantau ke Kota Apel untuk bekerja. Setelah enam bulan bekerja, dia dipercaya sebagai kepala cabang. Kemudian, dipercaya mengelola usaha toko IT di kawasan Jember. Setelah berjalan satu tahun, prestasinya gemilang. Dari beberapa cabang toko, usahanya mencapai omzet penjualan paling tinggi.

Meski hanya hitungan beberapa tahun, tapi hal itu benar-benar dia jadikan pengalaman. Sampai Roni memutuskan pulang kampung ke Banyuwangi, tertarik membuka usaha. Saat itu, Roni mengaku tak punya modal. Justru, ada seseorang yang berniat memberinya tawaran modal. “Tugas saya meyakinkannya,” ucapnya. Tugas itu tak gampang. Apalagi saat itu usia Roni yang terbilang masih muda, serta tak memiliki jabatan.

Roni pun resmi membuka usaha “Dutacom” di kawasan Siliragung. Usahanya ini dikelola dengan sistem bagi hasil. Dia mengaku membuka usaha ini bermodal tekad. Dia merintis usaha dari nol. Karena belum punya pasar, saat itu Roni rela turun ke jalan untuk sebar brosur sampai nyales barang. Setelah outlet pertama berjalan, Roni mengembangkan usaha dengan membuka BMC (Bos Muda Computer), beberapa bulan lalu. “Dengan adanya beberapa usaha, saya bersyukur bisa menyediakan lapangan kerja buat anak-anak muda,” ucapnya.

Yang menjadi keunggulan tokonya, menyediakan berbagai aksesoris handphone dan komputer, ter-update, kekinian, dan termurah. Menurutnya harga produk di tokonya bisa murah, mengingat diambil dari distributor murah, serta dalam jumlah banyak. Soal kualitas dijamin bukan murahan. Stok barang dari Malang, Surabaya dan Jakarta. Produk yang dijual di tokonya juga tak dijual di konter lain. Inilah yang membuat usaha tokonya mulai dilirik.

Menurutnya tantangan usahanya mengubah pemahaman masyarakat, bahwa belanja di kota lebih murah. Padahal, kata pria kelahiran Banyuwangi 13 Juni 1993 ini, makin ke kota biaya operasional kian mahal. Kini, dari usaha ini, pria asli Desa Sarongan ini bisa meraih omzet Rp 80 juta hingga Rp 150 juta per outlet. Seiring banyaknya kompetitor baginya bukan masalah. Mengingat makin banyak kompetitor, usaha akan makin hidup. (tin)