Ketua AKRAB Samsudin, Getol Kembangkan Potensi Desa

Ketua AKRAB Samsudin (foto/BB/wid)

DI kalangan pelaku industri kecl, namanya cukup dikenal. Dialah, Samsudin, Ketua Asosiasi Kerajinan Kuliner Kaos Aksesoris dan Batik (AKRAB) Banyuwangi. Kiprahnya dalam membangun para pemilik Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) cukup diperhitungkan. Sehingga banyak para pemilik UMKM yang terbilang sukses mengembangkan usahanya. Pria ini yang mempelopori terbentuknya asosiasi UMKM di Banyuwangi ini kini mulai merambah mengembangkan potensi wilayahnya, Desa Banjar Kecamatan Licin. Salah satunya, menggelar even-even bergengsi.

Munculnya AKRAB tak bisa lepas dari sosok Samsudin. Dua tahun terakhir, AKRAB makin mengembangkan sayapnya. Tidak hanya bidang batik, kuliner dan aksesoris, melainkan merambah hingga ke batu akik, ketika booming tahun lalu.

Di bawah kepemimpinan Samsudin, AKRAB Banyuwangi banyak membantu pemerintah dan pengusaha skala kecil memperkenalkan produknya. Seperti, batik. Dengan mengusung even-even besar, Samsudin menjembatani para UKM bisa terlibat langsung menggelar lapaknya. Sehingga bisa membantu menambah pendapatan dan membangun usaha lebih baik.

“Ya, semua atas kerjasama anggota AKRAB. Anggota kuliner dan minuman yang juga tergabung di AKRAB. Karena mereka semangat, ya saya harus support mereka,” katanya merendah saat berbincang dengan Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Samsudin menambahkan, sejak berdiri tahun 2013, AKRAB Banyuwangi sudah memiliki lebih dari 11 anggota asosiasi. Masing-masing asosiasi mempunyai produk yang berbeda satu sama lain. Sebagai induk dari perkumpulan tersebut, AKRAB terbilang cukup berhasil mengangkat nama Banyuwangi dalam mengelola jumlah UKM, tersebar di 24 kecamatan di Banyuwangi. Meski tidak semua asosiasi terlibat dalam AKRAB, namun atas perjuangannya melakukan pemberdayaan terhadap industri kecil, telah menjadikan AKRAB sebagai rujukan dari beberapa home industry untuk mengembangkan usahanya.

Apalagi di era sekarang ini, Samsudin  sangat mengapresiasi pemerintah yang makin mempermudah usaha kelompok binaannya dalam membangun program perizinan UMKM via pesan singkat telepon genggam atau SMS.

” Sekarang UMKM yang telah terdaftar lebih mudah mendapatkan binaan pemerintah dan kerjasama dengan pihak swasta lain,” kata pengusaha produk oleh-oleh Roti Klemben khas Banyuwangi ini. Ia menambahkan, dengan demikian program tersebut memudahkan perizinan UMKM dan pelakunya mengembangkan usaha masing-masing.
Tidak hanya bidang UMKM yang ditangani Samsudin, pria ini juga aktif mengembangkan potensi daerahnya. Sebutlah Desa Banjar yang dalam dua tahun terakhir telah menggelar even bergengsi kelas internasional.

Sebagai Ketua BUMDes Desa Banjar, Kecamatan Licin, Samsudin telah banyak mengangkat beberapa potensi-potensi lokalnya. Baik yang bersifat kultur adat, seni budaya maupun kuliner khas Banjar yang tidak dijumpai di wilayah lain di Banyuwangi. Seperti menggelar festival skala lokal bertaraf Internasional. Karena, mampu menghadirkan musisi-musisi dari luar negeri.

Melalui karang taruna Desa Banjar, Samsudin menggelar even  “Osing Culture Festival” tahun 2016, dengan tema “The Power Of Banjar Palm Red Sugar”, dan berhasil memberikan dampak cukup besar terhadap perkembangan potensi wisata di Desa Banjar. Mulai dari ekonomi, seni budaya, kerajinan pangan dan hasil pertanian masyarakat, serta tumbuh kembangnya home stay di desa setempat. Festival yang sama, Osing Culture Festival 2017, pihaknya  mengangkat tema “Sego Lemeng lan Kopi Uthek”, salah satu kuliner khas asli Desa Banjar. “Banyak potensi di Desa Banjar yang harus di lestarikan. Dan, lewat ajang ini, semua warga masyarakat dan perangkat desa, serta para pemuda di sini mulai bersemangat mengembangkannya,” papar Samsudin.

Tidak hanya sego lemeng dan kopi uthek, lanjut Samsudin, Desa Banjar juga mempunyai kebiasaan unik, yaitu  tradisi “Mepe Sarung”. Hal ini, kata Samsudin dilakukan dalam rangka menyambut datangnya Ramadhan. Beberapa kegiatan yang biasa dilakukan ketika memasuki bulan suci ini adalah membersihkan diri, rumah, makam keluarga hingga mencuci perlengkapan ibadah, salah satunya sarung, pakaian yang biasa digunakan umat muslim laki-laki untuk beribadah.

Mepe Sarung sendiri, menurut Samsudin merupakan kegiatan menjemur sarung secara bersama di setiap halaman rumah warga dengan cara tradisional. Cara ini tetap dipertahankan sejak dahulu. Yaitu, menggantung sarung dengan bambu agar tidak kusut. Hal ini dikarenakan zaman dahulu masyarakat masih belum mengenal setrika. Jika diperhatikan tradisi ini menjadi pemandangan unik yang tampak di desa ini setiap tahunnya.

Sama halnya dengan ritual adat, Desa Banjar yang dikelilingi area persawahan dan mayoritas petani biasa memainkan alat musik tradisional, yaitu angklung. Namun, tidak sekadar memainkan, mereka melakukannya di atas pondok bambu yang menjulang tinggi. Dikenal dengan paglak. Ini  yang membuat musik ini disebut dengan Angklung Paglak.
“Kegiatan ini dilakukan untuk mengusir burung-burung yang akan memakan padi siap panen, selain itu juga pengisi waktu luang petani di sawah sembari bersantai dan menikmati indahnya pemandangan alam dari atas paglak,” jelasnya.

Meski bekerja di balik layar, Samsudin tetap merasa bangga bisa menjadi pribadi yang bermanfaat bagi daerahnya. Karena selama ini, ia lebih senang jika generasi muda Desa Banjar turut andil dan menjadi bagian dari pelaku pembangunan di kampunganya. (wid)

BAGIKAN
Berita berikutnyaBapemperda Targetkan 33 Raperda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here