Karang Taruna Desa Banjar Gelar “Osing Culture Festival” 2017

141
Kegiatan Karang Taruna Desa Banjar, Licin dalam even Osing Culture Festival. (wid)

SUKSES menggelar even berskala lokal hingga nasional di tahun 2016, Karang Taruna Desa Banjar, Kecamatan Licin kembali menggelar even “Osing Culture Festival 2017”. Di tahun ini, even bergengsi tersebut akan dibuat beda. Lebih menarik. Salah satu tujuannya, terus mendongkrak kunjungan wisatawan ke desa di barat Banyuwangi ini. Apa saja persiapannya ?

Berbeda dengan tahun sebelumnya yang mengusung tema “The Power of Banjar Palm Red Sugar”, tahun ini akan mengambil tema ” Sego Lemeng lan Kopi Uthek”. Tahun lalu, even ini mampu memberikan dampak cukup besar terhadap perkembangan potensi wisata di Desa Banjar, mulai dari ekonomi, seni budaya, kerajinan pangan dan hasil pertanian masyarakat. Bahkan, tumbuh kembangnya home stay di Desa Banjar. Yang beda di tahun ini, menyajikan berbagai macam pertunjukkan kuliner, seni dan budaya.

Ketua Karang Taruna Desa Banjar, Suyitno mengatakan saat ini Banyuwangi mulai berkembang pesat dari segi industri pariwasata. Kondisi ini, kata dia, melatar belakangi diadakannya “Osing Culture Festival (OCF)” di Desa Banjar.

Menurutnya, Desa Banjar menyimpan berbagai macam banyak potensi. Baik SDM maupun sumber daya alam. Sehingga, OCF 2017 yang berkesinambungan setiap tahunnya menjadi wadah bagi masyarakat kreatif Desa Banjar memajukan dan melestarikan warisan leluhur.

Selain itu, kata pria yang akrab disapa Yitno ini, OCF 2017 menjadi sarana membuka peluang usaha di bidang pariwisata. Dan, sarana promosi bagi produk-produk unggulan Desa Banjar. “Pada OCF 2017, kami mengangkat tema Sego Lemeng lan Kopi Uthek. Salah satu kuliner khas asli warga Desa Banjar,”ungkapnya kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Ditambahkan, Sego Lemeng merupakan kuliner khas Desa Banjar yang turung temurun, diwariskan sebagai budaya leluhur. Sego Lemeng merupakan nasi yang dibungkus daun pisang, kemudian dibentuk lonjong seperti lontong. Di dalam nasi tersebut sudah diisi beberapa lauk, seperti tempe kering, jamur, ikan laut dan sambal kecombrang. Uniknya, tidak dimasak atau direbus layaknya lontong, melainkan dibakar, sebelumnya dimasukkan di dalam selongsong bambu.

Sego lemeng ini merupakan budaya warisan leluhur. Semasa Belanda menjajah, nasi lemeng menjadi bekal utama para gerilyawan yang berjuang melawan penjajah. “Sejak zaman penjajah hingga sekarang, sego lemeng masih ada di Banjar. Sego lemeng merupakan nasi yang biasanya jadi bekal masyarakat ketika bekerja di kebun, saat ini kami akan kembangkan kearifan lokal ini agar masyarakat juga tahu,” jelasnya.

Atas dasar ‘nguri-nguri’ atau menghidupkan kembali budaya lokal, yaitu sego lemeng, menjadi tema yang diangkat dalam festival tahun kedua ini. Selain itu, Kopi Uthek yang menjadi tradisi keunikan tersendiri bagi masyarakat Banjar dalam menikmati kopi. Yakni, dengan gula aren yang menjadi ikon desa setempat

juga menjadi tema besar pagelaran tersebut. Kopi khas warga Using Banyuwangi ini disuguhkan dengan cara spesial. Dalam setiap cangkir kopi ada sepotong gula kelapa terpisah sebagai pendampingnya. Konon, dengan penyajian seperti itu, selain membawa sensasi rasa juga dapat menjadi penawar efek samping usai meminum kopi. Seperti lambung kembung, perut mules, atau pusing.

Penyajian khas kopi seperti ini ternyata tak hanya kali ini. Melainkan telah menjadi warisan warga desa setempat secara turun temurun. Bahkan, ini juga telah menjadi budaya warga Desa Banjar yang tak terpisahkan setiap kali akan melakukan aktivitas pagi. “Hingga kini kami pertahankan, karena ini juga bagian dari budaya warga sini. Ke depan konsep semacam ini menjadi bagian promosi wisata daerah kami,” jelasnya.

Osing Culture Festival 2017, lanjut Yitno tidak hanya menampilkan Sego Lemeng dan Kopi Uthek, tetapi juga berbagai macam kegiatan budaya yang ada di Desa Banjar. Seperti tradisi “Mepe Sarung” dipadu dengan musik etnik Banyuwangi yang akan berkolaborasi dengan musisi jazz terkenal di Indonesia, serta dihadiri  Bupati Banyuwangi. Di dalam salah satu acara festival nantinya juga akan diadakan  launching website Desa Banjar yang akan menjadi pintu bagi dunia untuk mengenal desa ini.

Agenda Osing Culture Festival 2017 mengambil lokasi di Dusun Putuk dan Dusun Krajan, 8 dan 9 Juli 2017. Mereka mentargetkan pengunjung dari masyarakat umum sekitar Kecamatan Licin, wisatawan domestik maupun mancanegara yang sedang melakukan perjalanan ke Kawah Ijen. Lalu, para pelaku pariwisata di Banyuwangi dan pengusaha di bidang pariwisata. Bisa dibayangkan betapa meriahnya acara Osing Creative Festival ini. “Even ini juga menyuguhkan trekking sadap nira (bahan gula merah) dan menunjukan cara pembuatan gula aren merah yang menjadi ciri khas Desa Banjar. Juga bagaimana membuat sego lemeng dan kopi uthek,” pungkasnya. (wid)