Desa Temuguruh Populerkan Tradisi Seribu Ketupat

Warga mengikuti festival seribu ketupat. (foto/BB/tin)

DESA-DESA di Banyuwangi banyak menyimpan tradisi unik untuk merayakan Lebaran. Desa Temuguruh, Kecamatan Sempu salah satunya. Desa ini mempopulerkan festival seribu ketupat untuk merayakan Idul Fitri. Kegiatan ini sebagai ajang promosi potensi pariwisata di desa setempat.  Seperti apa prosesinya ?

Desa Temuguruh dengan luas 2.930 hektar persegi ini terbagi lima dusun, yakni Dusun Krajan Wetan, Krajan Kulon, Tojo Lor, Tojo Kidul dan Purwodadi. Masuk desa ini berbagai tanaman pertanian terlihat tumbuh subur. Hal ini karena kondisi alam desa yang subur, sangat mendukung berbagai tanaman pangan dikembangkan. Selain padi, warga menanam berbagai jenis palawija.

Selain di sektor pertanian, berbagai Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tumbuh subur. Salah satunya, usaha pembuatan kerupuk ikan,banyak  tersebar di Dusun Krajan Kulon dan Dusun Krajan Wetan. Sementara itu, usaha gula merah banyak ditekuni warga Dusun Tojo Lor dan Tojo Kidul. Sedangkan warga Dusun Purwodadi lebih banyak bekerja sebagai penyadap getah pinus. Mengingat, sebagian wilayah Dusun Purwodadi masuk kawasan hutan pinus.

Berbagai prestasi sempat diraih Desa Temugurh. Diantaranya, Juara Harapan II  Lomba Video Kreatif 2016, dan Juara II Lomba Perpustakaan Se-Kabupaten Banyuwangi, tahun 2016.

Sejarah Desa Temuguruh tak lepas dari zaman penjajahan Belanda. Dahulu banyak para pejuang yang mengungsi ke daerah di kaki Gunung Raung, tepatnya sebelah barat Banyuwangi ini. Konon, tempat tersebut dijadikan perlindungan dari kejaran tentara Belanda. Karena, area tersebut memiliki medan berat berupa hutan belantara dan pegunungan. Diyakini, dari sekian banyak pejuang, dahulunya mereka saudara seperguruan yang bertemu kembali. Ketiga orang tersebut adalah Mbah Mangku, yang makamnya di Desa Gendoh, Mbah Jayeng,  makamnya di Dusun Purwodadi, Desa Temuguruh dan Mbah H .Yusuf yang makamnya di Gumuksari, Sempu.

Terkait nama Desa Temuguruh, terdapat dua versi yang berkembang di masyarakat. Versi pertama, nama Temuruguh diambil dari dua kata, temu dan guruh. Temu bermakna pertemuan, guruh yang berarti para guru. Sementara versi kedua menyebutkan temu yang berarti pertemuan dan guruh, yang dimaknai guntur atau petir.

Saat ini, jumlah penduduknya 11.000 jiwa. Mayoritas warga desa terdiri dari tiga suku seperti Suku Jawa, Using dan Madura. Warga hidup rukun dan berdampingan satu sama lain. Berbagai jenis kesenian pun dilestarikan warga. Seperti kesenian hadrah dan seni jaranan.

Berbagai tradisi juga digelar warga desa ini. Salah satunya kegiatan santunan anak yatim tiap 10 Muharram. Kegiatan ini digelar tiap dusun. Ada juga tradisi Suroan yang rutin digelar warga tiap Suro. Yakni, tradisi Suroan dengan pagelaran wayang kulit serta tradisi nyekar ke Makam Jojo Purwodadi di Dusun Tojo Kidul.

Tradisi paling menarik adalah tradisi seribu ketupat. Prosesinya, sejak pagi, masyarakat desa tumpah ruah di kawasan lapangan desa setempat. Berbagai model tumpeng ketupat hasil kreativitas warga dipamerkan. Selanjutnya, tumpeng ketupat tersebut diarak beramai-ramai, diiringi suara tetabuhan alat musik hadrah dan kesenian daerah. Sesampai di kantor desa digelar doa bersama. Selanjutnya warga menyantapnya bersama-sama.

Menurut Kepala Desa Temuguruh Asmuni S.P, festival 1.000 Ketupat merupakan puncak acara dari serangkaian acara dalam Gerebek 1 Syawal 1438 H. “Ini merupakan ajang Ukhuwah Islamiah sebagai wujud kebersamaan umat beragama,” ucapnya kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Sebelumnya, acara diawali dengan berbagai lomba. Yakni, Lomba Dai Kecil (Dacil), Lomba Kaligrafi dan Lomba Tartil Quran pada pertengahan Ramadan. Selanjutnya, pada Lebaran H +7, digelar Festival 1.000 Ketupat. Selain arak-arakan ketupat, dimeriahkan dengan kegiatan bazar, pengajian dan halal bihalal.

Menurut Asmuni antusias warga mengikuti acara ini sangat tinggi. Sejak satu hari sebelumnya, warga sibuk membuat ketupat serta lepet dan merangkainya. Hasil tumpeng warga yang paling kreatif diberikan hadiah dan piala. Asmuni mengatakan acara ini baru pertama kalinya digelar. Dia berharap ke depan bisa menjadi agenda tahunan. (tin)

Terkenal dengan Pelasan Uling

SELAIN tradisi, Desa Temuguruh juga kaya kuliner. Datang ke desa ini, rasanya belum lengkap tanpa menikmati kuliner khasnya. Yakni pelasan Uling. Sajian ini bisa ditemui di Stan Warung Bumdes, di Jalan Sultan Agung. Menurut Jaenuri, Ketua Bumdes setempat, menu pelasan uling ini sudah ada sejak lama. Hanya, belakangan makin diburu.

Diakui, selain rasanya, pelasan uling ini banyak diburu karena khasiatnya. Rasa pelasan uling di kawasan ini dijamin berbeda. Yakni pedas manis. Menurut Prihatini, sang juru masak, pelasan uling di warung Bumdes ini memiliki rasa beda, dengan teknik pengolahan serta bumbu yang beda. Salah satu bahan dasar yang digunakan asam dan daun jeruk, sehingga pelasan tanpa bau amis.

Permintaan pelasan uling ini datang berbagai daerah. Seperti Banyuwangi, Genteng, Glenmore hingga Surabaya dan Bali. Bahkan, kata Jaenuri tiap ada tamu dari luar daerah jika datang ke desa ini kerap berburu pelasan uling. Per hari permintaan pelasan uling ini bisa tembus 15 -50 bungkus.  Harga per bungkus Rp 7.000 – Rp 10.000.

Selain pelasan uling, industri kerupuk berkembang di desa ini. Salah satunya, industri kerupuk ikan milik Suhaili, warga Dusun Krajan Kulon. Sudah 9 tahun, Suhaili merintis usaha ini. Dalam membuat kerupuk, dia dibantu 25 tenaga kerja. Berbagai jenis kerupuk dia buat. Selain kerupuk ikan, juga kerupuk sawi/gaplek. Usaha rumahan ini memiliki kapasitas produksi mencapai 3 kwintal perhari.

Diakui Suhaili, usaha kerupuk cukup berkembang di desa ini. Meski begitu, tak mengurangi permintaan. Bahkan pihaknya masih kualahan melayani permintaan. “Prospek usaha kerupuk sejauh ini masih sangat menjanjikan,” ucapnya. Suhaili mengaku menekuni usaha kerupuk dari modal Rp 300.000. Kini usaha kerupuk ini bisa mencetak omzet Rp 5 juta per hari. Pemasaran kerupuk ikan ini mencapai Genteng, Banyuwangi, Songgon dan Glenmore. Jika cuaca panas, proses produksi tak terkendala. Dari proses pembuatan sampai siap jual dalam keadaan sudah digoreng, perlu waktu dua hari. (tin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here