Bukit Taman Langit Desa Banjar, Keindahannya Mirip di Ubud

238
Hamparan sawah menghijau memikat mata wisatawan. (foto/BB/wid)

ALAM Banyuwangi memiliki beragam pesona dan keindahaan yang tak kalah dengan Bali. Salah satu tempat yang menawan adalah sebuah bukit di Desa Banjar, Kecamatan Licin. Bukit ini dinamakan Taman Langit, terletak di Dusun Puthuk. Dari bukit Taman Langit ini, Selat Bali dan wajah Banyuwangi terlihat eksotik.

Bentangan sawah hijau, dengan lekukan terasiring yang artistik, mirip persawahan di Ubud, Bali. Suasana ini makin indah dengan ┬áirama kicau burung dan desiran angin nan lembut, mampu melepaskan penat. Menurut Lukman, pemandu wisata Taman Langit sekaligus Ketua Pemuda Adat Desa Banjar, bukit tersebut merupakan akses jalan para petani untuk bercocok tanam. Lokasinya dikelilingi sungai di area sawah yang menghampar luas sepanjang mata memandang. Dari ketinggian bukit Taman Langit tersebut, pengunjung dapat menyaksikan panorama lanskap yang menawan. Hamparan sawah dari segala penjuru. Di bukit ini pengunjung bisa menikmati ‘Sunrise’ dan ‘Sunset’ yang mempesona.

Lukman menambahkan, sawah-sawah terasiring nan artistik tersebut dibuat para petani karena tekstur lokasi sawah yang miring, letaknya di lereng pegunungan. Sehingga banyak wisatawan-wisatawan yang sengaja datang. Apalagi, saat musim panen tiba, persawahaan yang tampak menguning, serta kegiatan para petani memanen padi. Menambah nuansa khas pedesaan yang nyaman. Tentunya, menjadi tempat menarik untuk berfoto. Maklum, saat panen hampir sebagian besar warga ikut terlibat kegiatan memanen padi, serta tanaman lainnya. Menambah nuansa asri yang jarang ditemui di perkotaan.

Burung bangau yang mencari makan di sekitar sawah menandakan suasana sekitar dan ekosistem alam di persawahan tersebut masih sangat alami. Pepohonan rindang di desa tersebut, menambah semilir angin yang sejuk. Embusan angin persawahan membuat nyaman ketika mengunjungi desa tersebut. Jika sore hari, akan terlihat pemandangan yang begitu eksotis. Para petani berjalan melewati pematang berterasiring, memperlihatkan suasana khas pedesaan yang sederhana. “Pengunjung juga bisa menikmati segarnya kelapa muda. Saat musim buah, pengunjung bisa metik langsung buahnya di sekitar sini,” kata Lukman kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Untuk menuju ke lokasi Taman langit tersebut, lanjut Lukman, dari arah Desa Banjar pengunjung bisa menghubungi Ketua Adat setempat. Kemudian, akan diantarkan ke Taman Langit, melewati beberapa dusun. Tiba di Dusun Puthuk, pengunjung bisa berjalan kaki atau diantar dengan ojek. Bisa juga dengan naik andong atau kereta sapi hingga ke lokasi.
Bagi yang ingin di temani alunan musik paglak, ketua adat sudah mempersiapkan alat musik terbuat dari bambu. Sambil menikmati panorama alam yang sejuk dan semilirnya musik paglak, pengunjung bisa menikmati sajian nasi lemeng dan uthek-uthek di pondok bambu bertingkat yang telah disediakan.

Nasi lemeng merupakan olahan nasi dicampur santan dan daging yang dikukus. Baru dibungkus dengan daun pisang dan dimasukkan ke dalam bambu, lalu dibakar dengan arang. Sedangkan utek-utek, merupakan sari nira yang sudah dimasak, lantas dituang di atas daun pisang hingga berbentuk bulat-bulat. Bila sudah membeku, jadilah gula merah bernama utek-utek. Urusan minum, warga Desa Banjar menyajikan air di dalam kendi. Cara penyajiannya tanpa menggunakan gelas. Sehingga, rasa segar benar-benar terasa saat minum dengan cara menenggak. Usai makan, sambil duduk-duduk, para rombongan dipersilakan menikmati utek-utek yang sudah mengeras, hangat dan siap dimakan. Mengunjungi tempat ini dijamin mendapatkan pengalaman yang indah, mengesankan. (wid)