Beranda blog

Indah Yeni, S.H., Pegang Teguh Idiologi Kerakyatan

0
Bersama sang suami yang juga Ketua DPRD Banyuwangi. (foto/ist)

IDIOLOGI kerakyatan yang digaungkan Sang Proklamator RI, Bung Karno menjadi nafas dari sosok Indah Yeni, S.H. Semangat mengabdi ini membawanya terpilih sebagai Ketua Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Banyuwangi, periode 2017-2022. Sebagai kaum hawa, dia ingin menggaungkan semangat emansipasi dalam pembangunan. Salah satunya, berjuang lewat organisasi. Baginya, selalu hadir di tengah-tengah rakyat menjadi cara ampuh mewujudkan kesejahteraan. Apa saja program unggulannya ?

Riuh tepuk tangan para alumni GMNI Banyuwangi bergemuruh dari salah satu aula, belum lama ini. Lewat aklamasi, mereka kompak memilih Indah Yeni menjadi nahkoda organisasi, lima tahun ke depan. Bukan tanpa alasan. Yeni, panggilan akrabnya, dinilai tepat menjadi kapten “tangguh” dengan ratusan kader itu. Jiwa ngopeni dan peduli, membuat sejawatnya menjadikan calon tunggal dalam Koferensi Cabang (Konfercab) PA GMNI Banyuwangi, 4 Februari 2017.

Tak hanya itu, Yeni juga dikenal kuat memegang prinsip Marhaen atau kerakyatan. Persis ajaran Bung Karno. ” Sebenarnya masih banyak yang lebih baik untuk memimpin. Tapi, sebagai kader, saya tak bisa menolak ketika didaulat membawa gerbong PA GMNI Banyuwangi,” kata istri Ketua DPRD Banyuwangi, Made Cahyana Negara ini saat berbincang dengan Bisnis Banyuwangi, pekan lalu. Bagi Yeni, mendapat kepercayaan dari sejawat organisasi adalah amanah. Jadi, wajib dijalankan sepenuh hati.

Jiwa berorganisasi yang dimiliki Yeni tumbuh sejak kecil. Bisa dibilang, menjadi panggilan jiwanya. Maklum, sang ayah adalah kader PDIP. ” Sejak kecil saya memang menyukai sosok Bung Karno. Ketika masih kecil pernah ikut kegiatan kampanye. Naik truk ramai-ramai. Jadi, tertarik ikut organisasi,” kenang wanita kelahiran 12 Maret 1982 ini. Kebetulan, lingkungan kelahiran Yeni di Cawang, Singojuruh dikenal sebagai basis pendukung Nasionalis. Kondisi ini membuat jiwa organisasinya tumbuh. Ketika masih belia, alumnus SMPN 1 Rogojampi ini sempat bercita-cita menjadi Ketua DPRD Banyuwangi. Alasannya, agar bisa memegang palu kebijakan untuk rakyat.

Tak hanya berorganisasi, Yeni selalu kagum dengan kisah Sang Proklamator. Ketika SMP, guru Biologinya selalu menceritakan perjuangan Bung Karno. Sehingga, kekagumannya makin kokoh. Dia juga rajin mengikuti berita-berita politik di televisi. Salah satunya, karir Megawati Soekarno Putri, sang nahkoda PDIP. ” Saya senang melihat berita politik di televisi. Seperti saat Bu Megawati berorasi politik dan lainnya,” jelasnya. Bahkan, Yeni sempat taruhan kemenangan dalam Pilpres ketika masih di bangku SMA.

Semangat berorganisasi mulai dituangkan saat masuk SMA, tepatnya di MAN Banyuwangi. Yeni bergabung dalam OSIS. Dari sini, jiwa berorganisasi kian terasah. Puncaknya, ketika i menjadi mahasiswi Untag’45 Banyuwangi, tahun 2003. Pilihannya jatuh ke organisasi GMNI. ” Awalnya, saya tidak tahu organisasi kemahasiswaan. Saat diajak masuk GMNI, saya langsung tertarik, gara-gara lihat logo kepala banteng,” kenang ibu dari Andhaka Satria Negara, Anugerah Abdi Negara dan Simfony Nata Negara ini. Di GMNI, dirinya banyak belajar tentang kerakyatan, terutama ajaran Bung Karno. Tak sekadar pintar berpidato, menurutnya, Bung Karno mampu membuktikan komitmen untuk negara dan rakyat.

Berkat semangatnya ini, Yeni didapuk menjadi Kepala Bidang Organisasi GMNI Banyuwangi. Saat bersamaan, dia terpilih sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Untag’45 Banyuwangi. Jiwa organisasinya kian matang setelah terpilih menjadi Wakil Ketua PAC PDIP Singojuruh. Setelah itu, karir organisasinya terus menanjak. Hingga menempati posisi anggota Departemen Perempuan dan Anak di DPC PDIP Banyuwangi, ketika kepemimpinan Yusuf Widiatmoko. Tahun 2009, Yeni memantapkan langkahnya menjadi calon legeslatif (caleg) DPRD Banyuwangi dari Dapil II. Sayang, Dewi Fortuna belum berpihak.  Justru, sang suami yang lolos dari Dapil I, hingga dua periode. Kini, cita-citanya menjadi Ketua DPRD tercapai di tangan sang suami yang juga Ketua DPC PDIP Banyuwangi.

Sibuk sebagai istri jajaran Forpimda dan Ketua PA GMNI Banyuwangi, tak membuat Yeni meninggalkan kodrat sebagai ibu rumah tangga. Di sela kesibukan, dia selalu memperhatikan perkembangan anak-anaknya. Termasuk, mendukung tugas suami. ” Kita boleh sibuk berorganisasi, tapi tugas utama sebagai wanita harus tetap jalan,” tegasnya semangat. Kebetulan, sang suami juga mendukung karirnya berorganisasi.

Kenapa memilih organisasi politik ? Menurut Yeni, organisasi sudah menjadi panggilan jiwa. Dia mengaku pernah lama bekerja di dua bank nasional. Namun, tetap saja tak bisa meninggalkan organisasi. ” Memang sudah panggilan jiwa. Tak bisa dipungkiri,” jelas wanita yang kini menempuh S2 tersebut.  Dengan berorganisasi, dirinya bisa berjuang untuk rakyat. (udi)

Kaum Wanita Jangan hanya di Dapur  

TAK sekadar mengamalkan ajaran Bung Karno, semangat Indah Yeni berorganisasi ingin mengajak kaum wanita ikut membangun. Menurutnya, kaum wanita memiliki peran vital dalam pembangunan negara. Salah satu faktor pembangunan, yakni sumberdaya manusia (SDM), keberhasilannya di tangan kaum wanita. ” Baik tidaknya SDM suatu negara, ada di tangan wanita. Sebab, wanita yang mendidik karakter anak-anak,bahkan mulai dari kandungan,”  jelasnya.

Semangat emansipasi ini menjadi salah satu program unggulan dari PA GMNI Banyuwangi yang dikendalikannya. ” Saat ini, kaum wanita jangan hanya di dapur, di sumur dan di kasur. Tapi, harus ikut dalam pembangunan,” jelasnya lagi. Ditambahkannya, dalam Pancasila dan UUD 1945, tak ada perbedaan antara kaum laki-laki dan perempuan dalam pembangunan. Sehingga, memiliki hak dan kewajiban sama.

Yeni juga membuat perubahan di PA GMNI. Ditegaskan, kader PA GMNI tak hanya piawai berorasi. Namun, masuk ke semua bidang sesuai kemampuan masing-masing. Sehingga, bisa ikut menuangkan idiologi Marhaen dalam kebijakan di daerah. ” Bagi yang mau menjadi politisi, akademisi, silahkan. Kita lakukan pemerataan semua kader untuk menerapkan ajaran kerakyatan sesuai falsafah Bung Karno di semua lini,” tegasnya. Lewat organisasi, pihaknya menolak tegas paham radikalisme yang mengancam keutuhan Pancasila dan NKRI. ” PA GMNI akan menjadi garda terdepan mempertahankan idiologi Pancasila. NKRI adalah harga mati,” pungkas Yeni seraya mengucapkan Dirgahayu Pancasila, 1 Juni. (udi)

Dewan Buka Pos Keluhan PPDB

0
Ketua Komisi IV DPRD Banyuwangi, Ahmad Taufik (foto/BB/udi)

PENERIMAAN Peserta Didik Baru (PPDB) yang berbeda dari tahun sebelumnya, membuat DPRD Banyuwangi ikut turun tangan. Ketua Komisi IV DPRD Banyuwangi, Ahmad Taufik menegaskan sejak awal PPDB, pihaknya langsung turun ke sejumlah sekolah untuk menggelar sidak. Fokusnya, mengawasi proses PPDB, baik cara manual maupun online.

“Tahun ini, sistem PPDB sedikit berbeda. Pakai online, ada sistem zonasi juga. Kita tak ingin masyarakat diresahkan dengan kondisi ini, lalu muncul protes,” kata politisi PKB ini, pekan lalu.

Hasil sidak, kata Taufik, belum ditemukan keluhan maupun protes. Artinya, seluruhnya berjalan lancar. Baik tingkatan SD hingga SMA/SMK. Meski begitu, pihaknya tetap akan memantau terus proses PPDB. “Jika ada keluhan, silahkan mengadu ke DPRD. Kami akan tindak lanjuti dan dicarikan solusinya,”kata Taufik.

Dijelaskan, aturan terbaru PPDB memang berbeda. Salah satunya, ada sistem zonasi dan jalur online. Pihaknya khawatir, masyarakat yang belum paham akan merasa terbebani. Sehingga, dibutuhkan pemahaman. Sejauh ini, kata dia, sistem zonasi juga belum mendapatkan hambatan dalam PPDB. Artinya, lanjut Taufik, sistem terbaru ini bisa diterima masyarakat. Lalu, menjadi pengalaman para orang tua untuk mendorong anaknya belajar. Sehingga, saat PPDB tak kelimpungan mendapatkan nilai rendah. Gagal masuk ke sekolah favorit.

Meski PPDB berjalan lancar, kata Taufik, pihakanya akan mengajak instansi terkait PPDB untuk menggelar raker. Tujuannya, mengevaluasi hasil PPDB dan program pendidikan ke depan. Apalagi, pengelolaan SMA/SMK mulai tahun ini tak lagi menjadi wewenang daerah. Melainkan ditarik ke provinsi. Sehingga, pihaknya ingin melihat program kerja jajaran Pendidikan Cabang Banyuwangi. “Ini yang akan kita ketahui. Bagaimana program kerjanya dan apa saja,” jelasnya. Persoalan pendidikan, kata dia, menjadi fokus pemantauan. Sebab, menyangkut masa depan dan kualitas belajar anak-anak di Banyuwangi. (udi)

 

Layak Ditiru, Merintis Usaha Tanpa Modal

0
Personel BMC yang menawarkan produk murah. (foto/BB/tin)

AKRAB dan bersahabat, itulah sosok pengusaha muda satu ini. Meski, usianya terbilang masih cukup muda, namun, piawai merintis beberapa usaha. Salah satunya pemilik BMC (Bos Muda Computer) yang buka di kawasan Desa Kebondalem, Bangorejo. Pria bernama lengkap Ahmad Haeroni ini mengaku merintis usaha dari nol, bahkan tanpa modal. Roni begitu dia disapa mengaku menerjuni bidang IT dari nol. Dari sebelumnya tak tahu apa-apa tentang IT. Sebelum merintis usaha sendiri, Roni bekerja ikut orang di sebuah perusahaan IT di Malang.

“Tamat SMA, saya langsung bekerja,” ucapnya kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu. Keinginannya untuk kuliah kandas lantaran keterbatasan ekonomi keluarga. Meski tak mengantongi pengalaman kerja di bidang IT, dia membulatkan tekad merantau ke Kota Apel untuk bekerja. Setelah enam bulan bekerja, dia dipercaya sebagai kepala cabang. Kemudian, dipercaya mengelola usaha toko IT di kawasan Jember. Setelah berjalan satu tahun, prestasinya gemilang. Dari beberapa cabang toko, usahanya mencapai omzet penjualan paling tinggi.

Meski hanya hitungan beberapa tahun, tapi hal itu benar-benar dia jadikan pengalaman. Sampai Roni memutuskan pulang kampung ke Banyuwangi, tertarik membuka usaha. Saat itu, Roni mengaku tak punya modal. Justru, ada seseorang yang berniat memberinya tawaran modal. “Tugas saya meyakinkannya,” ucapnya. Tugas itu tak gampang. Apalagi saat itu usia Roni yang terbilang masih muda, serta tak memiliki jabatan.

Roni pun resmi membuka usaha “Dutacom” di kawasan Siliragung. Usahanya ini dikelola dengan sistem bagi hasil. Dia mengaku membuka usaha ini bermodal tekad. Dia merintis usaha dari nol. Karena belum punya pasar, saat itu Roni rela turun ke jalan untuk sebar brosur sampai nyales barang. Setelah outlet pertama berjalan, Roni mengembangkan usaha dengan membuka BMC (Bos Muda Computer), beberapa bulan lalu. “Dengan adanya beberapa usaha, saya bersyukur bisa menyediakan lapangan kerja buat anak-anak muda,” ucapnya.

Yang menjadi keunggulan tokonya, menyediakan berbagai aksesoris handphone dan komputer, ter-update, kekinian, dan termurah. Menurutnya harga produk di tokonya bisa murah, mengingat diambil dari distributor murah, serta dalam jumlah banyak. Soal kualitas dijamin bukan murahan. Stok barang dari Malang, Surabaya dan Jakarta. Produk yang dijual di tokonya juga tak dijual di konter lain. Inilah yang membuat usaha tokonya mulai dilirik.

Menurutnya tantangan usahanya mengubah pemahaman masyarakat, bahwa belanja di kota lebih murah. Padahal, kata pria kelahiran Banyuwangi 13 Juni 1993 ini, makin ke kota biaya operasional kian mahal. Kini, dari usaha ini, pria asli Desa Sarongan ini bisa meraih omzet Rp 80 juta hingga Rp 150 juta per outlet. Seiring banyaknya kompetitor baginya bukan masalah. Mengingat makin banyak kompetitor, usaha akan makin hidup. (tin)

Divista Putri Gusvani, Langganan Acara Resmi

0
Divista Putri Gusvani (dok)

BERBAGAI acara resmi, baik Pemkab maupun DPRD tak lepas dari penampilan penyanyi yang satu ini. Dialah, Divista Putri Gusvani. Penampilannya yang serba bisa membawakan aneka lagu, membuat sebuah acara lebih hidup. Terutama alunan lagu-lagu lawas dan impor. ” Beberapa tahun terakhir memang dipercaya tampil di acara-acara Pemkab. Kalau di DPRD, dua tahun terakhir ini,” kata dara yang akrab dipanggil Vista ini usai mengisi acara halal bihalal Idul Fitri di DPRD Banyuwangi, pekan lalu.

Mendapat kepercayaan tampil di acara resmi, bukan perkara mudah. Namun, bagi Vista, tampil di hadapan kalangan pejabat sudah menjadi hal biasa. ” Karena sudah langganan, kalau ada acara resmi tak ada persiapan khusus. Biasanya, menyesuaikan dengan tema,” jelasnya. Dia mencontohkan ketika tampil di acara DPRD. Karena bernuansa Islami, lagu-lagu yang dibawakan juga bertema rohani.

Selain di acara resmi, Vista juga memiliki jam terbang tinggi di ajang live music. Dia kerap tampil di beberapa hotel dan restoran papan atas. Maklum, suaranya selalu nyambung dengan lagu-lagu bergenre pop dan jazz. Ditambah lagi dengan iringan musisi organ tunggal papan atas Banyuwangi, Victor Music. ” Kalau kegiatan rutin, tampil di live music di hotel dan restoran,” imbuh pemilik bintang Virgo ini. Di panggung, Vista selalu memberikan lagu-lagu yang hits, sehingga bisa membius pengunjung.

Vista memulai karir seni sejak kelas 3 SD. Berawal dari dorongan sang mama, putri pasangan Ellyta Anggraeni dan Widin Susianto (alm) ini sering ikut lomba dan les model sejak kecil. Rupanya, darah seni yang mengalir dari sang ayah membuat Vista semangat terjun ke seni suara.

Selain organ tunggal, Vista kerap manggung bersama band dan akustik. Pasca-Lebaran, Vista mengaku mulai kebanjiran order manggung. Hebatnya, meski jadwal cukup padat, dara berawajah cantik ini tetap memprioritaskan kuliah.  Karena fokus kuliah, Vista enggan jika harus manggung ke luar daerah. Apalagi, cita-citanya cukup mulia, menjadi notaris. (udi)

Bukit Taman Langit Desa Banjar, Keindahannya Mirip di Ubud

0
Hamparan sawah menghijau memikat mata wisatawan. (foto/BB/wid)

ALAM Banyuwangi memiliki beragam pesona dan keindahaan yang tak kalah dengan Bali. Salah satu tempat yang menawan adalah sebuah bukit di Desa Banjar, Kecamatan Licin. Bukit ini dinamakan Taman Langit, terletak di Dusun Puthuk. Dari bukit Taman Langit ini, Selat Bali dan wajah Banyuwangi terlihat eksotik.

Bentangan sawah hijau, dengan lekukan terasiring yang artistik, mirip persawahan di Ubud, Bali. Suasana ini makin indah dengan  irama kicau burung dan desiran angin nan lembut, mampu melepaskan penat. Menurut Lukman, pemandu wisata Taman Langit sekaligus Ketua Pemuda Adat Desa Banjar, bukit tersebut merupakan akses jalan para petani untuk bercocok tanam. Lokasinya dikelilingi sungai di area sawah yang menghampar luas sepanjang mata memandang. Dari ketinggian bukit Taman Langit tersebut, pengunjung dapat menyaksikan panorama lanskap yang menawan. Hamparan sawah dari segala penjuru. Di bukit ini pengunjung bisa menikmati ‘Sunrise’ dan ‘Sunset’ yang mempesona.

Lukman menambahkan, sawah-sawah terasiring nan artistik tersebut dibuat para petani karena tekstur lokasi sawah yang miring, letaknya di lereng pegunungan. Sehingga banyak wisatawan-wisatawan yang sengaja datang. Apalagi, saat musim panen tiba, persawahaan yang tampak menguning, serta kegiatan para petani memanen padi. Menambah nuansa khas pedesaan yang nyaman. Tentunya, menjadi tempat menarik untuk berfoto. Maklum, saat panen hampir sebagian besar warga ikut terlibat kegiatan memanen padi, serta tanaman lainnya. Menambah nuansa asri yang jarang ditemui di perkotaan.

Burung bangau yang mencari makan di sekitar sawah menandakan suasana sekitar dan ekosistem alam di persawahan tersebut masih sangat alami. Pepohonan rindang di desa tersebut, menambah semilir angin yang sejuk. Embusan angin persawahan membuat nyaman ketika mengunjungi desa tersebut. Jika sore hari, akan terlihat pemandangan yang begitu eksotis. Para petani berjalan melewati pematang berterasiring, memperlihatkan suasana khas pedesaan yang sederhana. “Pengunjung juga bisa menikmati segarnya kelapa muda. Saat musim buah, pengunjung bisa metik langsung buahnya di sekitar sini,” kata Lukman kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Untuk menuju ke lokasi Taman langit tersebut, lanjut Lukman, dari arah Desa Banjar pengunjung bisa menghubungi Ketua Adat setempat. Kemudian, akan diantarkan ke Taman Langit, melewati beberapa dusun. Tiba di Dusun Puthuk, pengunjung bisa berjalan kaki atau diantar dengan ojek. Bisa juga dengan naik andong atau kereta sapi hingga ke lokasi.
Bagi yang ingin di temani alunan musik paglak, ketua adat sudah mempersiapkan alat musik terbuat dari bambu. Sambil menikmati panorama alam yang sejuk dan semilirnya musik paglak, pengunjung bisa menikmati sajian nasi lemeng dan uthek-uthek di pondok bambu bertingkat yang telah disediakan.

Nasi lemeng merupakan olahan nasi dicampur santan dan daging yang dikukus. Baru dibungkus dengan daun pisang dan dimasukkan ke dalam bambu, lalu dibakar dengan arang. Sedangkan utek-utek, merupakan sari nira yang sudah dimasak, lantas dituang di atas daun pisang hingga berbentuk bulat-bulat. Bila sudah membeku, jadilah gula merah bernama utek-utek. Urusan minum, warga Desa Banjar menyajikan air di dalam kendi. Cara penyajiannya tanpa menggunakan gelas. Sehingga, rasa segar benar-benar terasa saat minum dengan cara menenggak. Usai makan, sambil duduk-duduk, para rombongan dipersilakan menikmati utek-utek yang sudah mengeras, hangat dan siap dimakan. Mengunjungi tempat ini dijamin mendapatkan pengalaman yang indah, mengesankan. (wid)

Bekraf Mulai Dampingi Pelaku Ekonomi Kreatif

0
Pengrajin bambu di Desa Gintangan. (foto/BB/udi)

PELAKU ekonomi kreatif di Banyuwangi benar-benar mendapat perhatian pusat. Badan EkonomiKreatif (Bekraf) mulai turun pelaku ekonomi mulai Juli ini. Tak tanggung-tanggung, program ini akan berlanjut hingga  empat bulan ke depan. Harapannya, dari  program ini, mampu meningkatkan daya saing pelaku ekonomi di Banyuwangi. Program Bekraf ini dinamai Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara (Ikkon).

Bekraf memberangkatkan tim yang tinggal di Banyuwangi selama lima bulan. Mereka dari beragam keilmuan. Mulai desainer fesyen, desainer produk, antropolog, desainer tekstil, desainer grafis, arsitek, desainer interior, manajemen bisnis, hingga video maker.

Dengan berbagai disiplin ilmu tersebut, langkah pendampingan bisa komprehensif, dari sisi produksi, manajemen, pemasaran, hingga pendekatan antropologisnya. Pendampingan dibuat fokus ke beberapa sentra UMKM berbasis desa, sehingga hasilnya bisa lebih terukur.”Desainer produk Bekraf mendampingi penentuan bentuk produk perajin kami, seperti produk bambu, furniture, atau suvenir. Lalu manajemennya disentuh, sehingga UMKM lebih profesional. Didampingi pula kemasan dan model promosinya. Demikian juga UMKM batik dan makanan Banyuwangi, didampingi desainnya sampai promosinya,” kata Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, belum lama ini.

Pihaknya optimis  pendampingan ini semakin menggeliatkan UMKM. ”Pengembangan ekonomi kreatif berbasis pariwisata yang kami lakukan selama ini berjalan cukup baik. Pengrajin tumbuh. Tapi tentu masih banyak kekurangan. Kami berharap itu bisa dibenahi bersama, dan kami bisa mendapat banyak masukan dari Bekraf,” ujarnya.

Dari data BPS, ekonomi kreatif di Banyuwangi menyumbang 5,15 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Anas optimistis, sinergi Bekraf akan  mengerek kinerja ekonomi kreatif, minimal  berkontribusi 10 persen terhadap PDRB pada 2021. Sebelumnya, Banyuwangi juga dipilih Bekraf dipromosikan sebagai lokasi syuting kepada sineas internasional di ajang Festival Film Cannes, Perancis, Mei lalu. (udi)

Batok Kelapa Disulap Jadi Aneka Kerajinan

0
Kerajinan batok kelapa di Desa Banjar, Licin. (foto/BB/wid)

DESA Banjar, Kecamatan Licin, tidak hanya dikenal dengan panorama alam yang mempesona. Kerajinan unik berbahan batok kelapa, juga menjadi ciri khas warga setempat. Di tangan orang-orang kreatif ini, batok kelapa yang awalnya dianggap sampah diubah menjadi produk kerajinan ber nilai jual tinggi.

Kerajinan dari batok kelapa memang agak sulit untuk dibuat. Namun, tidak bagi Ahmad Rudiyanto, warga Desa Banjar. Batok kelapa yang awalnya terbuang, kini dibuat berbagai bentuk kerajinan unik. Seperti lampu gantung, lampu dinding dan lampu meja. Ada juga gantungan kunci, mangkuk, asbak serta cangkir plus teko yang seluruhnya berbahan batok kelapa.

Melalui imajinasinya, lelaki yang sebelumnya hanya bekerja sebagai buruh tani ini mampu menyulap limbah batok atau tempurung kelapa menjadi aneka kerajinan. Kesannya barang mewah.  “Awalnya saya mencoba membersihkan batok dengan cara dikikis, kemudian diampelas hingga halus. Kemudian saya bentuk pola lampu hias. Dan ternyata hasilnya bagus, ya sudah dilanjut,” kata Rudi kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Untuk membuat kerajinan tersebut, dia sengaja memilih batok kelapa yang sudah benar-benar tua dan kering. Cirinya, bagian potongannya berwarna agak kehitaman, supaya hasilnya lebih bagus, tidak cepat mengeluarkan bubuk.

Seperti lampu dinding yang mirip dengan lampu dokar tempo dulu. Sekilas, lampu dinding dan lampu gantung hasil karya tangan Rudi seolah mengajak kembali ke zaman kerajaan. Karena hasilnya menarik, sejumlah tetangganya memesan hasil kerajinan ini. Dari situ Rudi bertekad menekuni kerajinan batok kelapa ini. Seiring berjalannya waktu, hasil kerajinannya dikenal, kian laris. Apalagi harga lampu hias ini sangat terjangkau, hanya berkisar Rp 100.000 hingga Rp 150.000 per buah.

Begitu juga dengan cangkir dan teko yang begitu klasik. Dalam satu set, ada 6 cangkir yang mengelilingi 1 teko di tengahnya. Harganya pun bervariasi, kisaran Rp 150.000 hingga Rp 200.000 per set.

Rudi menuturkan, untuk membuat kerajinan batok kelapa, dirinya terlebih dahulu membersihkan serabut kasar di permukaan batok kelapa, menggunakan pecahan kaca atau pisau. Selanjutnya membersihkan sisa serabut halus pada permukaan batok menggunakan amplas kasar. Kemudian, amplas halus untuk menghaluskan permukaan batok secara merata.

“Agar permukaan batok bisa mengkilat, bisa menggosok permukaan batok menggunakan daun kering secara berulang sampai terlihat mengkilat. Cara lain yang bisa digunakan agar batok terlihat mengkilat dengan mengecatnya menggunakan cat pernis,” kata pria yang mengawali membuat kerajinan batok pada tahun 2016 tersebut.

Langkah terakhir, lanjut Rudi, memotong batok sesuai dengan pola kerajinan yang akan dibuat. Untuk memotongnya, Rudi masih menggunakan gergaji, bor, palu, amplas dan gerinda. Lalu,dia akan menciptakan kerajinan. Seperti tempat minum, lampu, cangkir dan lain-lain. Dengan sentuhan seni yang halus, batok kelapa yang semula teronggok di pinggir sawah, kini terlihat lebih cantik, artistik dan menarik. (wid)

Karang Taruna Desa Banjar Gelar “Osing Culture Festival” 2017

0
Kegiatan Karang Taruna Desa Banjar, Licin dalam even Osing Culture Festival. (wid)

SUKSES menggelar even berskala lokal hingga nasional di tahun 2016, Karang Taruna Desa Banjar, Kecamatan Licin kembali menggelar even “Osing Culture Festival 2017”. Di tahun ini, even bergengsi tersebut akan dibuat beda. Lebih menarik. Salah satu tujuannya, terus mendongkrak kunjungan wisatawan ke desa di barat Banyuwangi ini. Apa saja persiapannya ?

Berbeda dengan tahun sebelumnya yang mengusung tema “The Power of Banjar Palm Red Sugar”, tahun ini akan mengambil tema ” Sego Lemeng lan Kopi Uthek”. Tahun lalu, even ini mampu memberikan dampak cukup besar terhadap perkembangan potensi wisata di Desa Banjar, mulai dari ekonomi, seni budaya, kerajinan pangan dan hasil pertanian masyarakat. Bahkan, tumbuh kembangnya home stay di Desa Banjar. Yang beda di tahun ini, menyajikan berbagai macam pertunjukkan kuliner, seni dan budaya.

Ketua Karang Taruna Desa Banjar, Suyitno mengatakan saat ini Banyuwangi mulai berkembang pesat dari segi industri pariwasata. Kondisi ini, kata dia, melatar belakangi diadakannya “Osing Culture Festival (OCF)” di Desa Banjar.

Menurutnya, Desa Banjar menyimpan berbagai macam banyak potensi. Baik SDM maupun sumber daya alam. Sehingga, OCF 2017 yang berkesinambungan setiap tahunnya menjadi wadah bagi masyarakat kreatif Desa Banjar memajukan dan melestarikan warisan leluhur.

Selain itu, kata pria yang akrab disapa Yitno ini, OCF 2017 menjadi sarana membuka peluang usaha di bidang pariwisata. Dan, sarana promosi bagi produk-produk unggulan Desa Banjar. “Pada OCF 2017, kami mengangkat tema Sego Lemeng lan Kopi Uthek. Salah satu kuliner khas asli warga Desa Banjar,”ungkapnya kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Ditambahkan, Sego Lemeng merupakan kuliner khas Desa Banjar yang turung temurun, diwariskan sebagai budaya leluhur. Sego Lemeng merupakan nasi yang dibungkus daun pisang, kemudian dibentuk lonjong seperti lontong. Di dalam nasi tersebut sudah diisi beberapa lauk, seperti tempe kering, jamur, ikan laut dan sambal kecombrang. Uniknya, tidak dimasak atau direbus layaknya lontong, melainkan dibakar, sebelumnya dimasukkan di dalam selongsong bambu.

Sego lemeng ini merupakan budaya warisan leluhur. Semasa Belanda menjajah, nasi lemeng menjadi bekal utama para gerilyawan yang berjuang melawan penjajah. “Sejak zaman penjajah hingga sekarang, sego lemeng masih ada di Banjar. Sego lemeng merupakan nasi yang biasanya jadi bekal masyarakat ketika bekerja di kebun, saat ini kami akan kembangkan kearifan lokal ini agar masyarakat juga tahu,” jelasnya.

Atas dasar ‘nguri-nguri’ atau menghidupkan kembali budaya lokal, yaitu sego lemeng, menjadi tema yang diangkat dalam festival tahun kedua ini. Selain itu, Kopi Uthek yang menjadi tradisi keunikan tersendiri bagi masyarakat Banjar dalam menikmati kopi. Yakni, dengan gula aren yang menjadi ikon desa setempat

juga menjadi tema besar pagelaran tersebut. Kopi khas warga Using Banyuwangi ini disuguhkan dengan cara spesial. Dalam setiap cangkir kopi ada sepotong gula kelapa terpisah sebagai pendampingnya. Konon, dengan penyajian seperti itu, selain membawa sensasi rasa juga dapat menjadi penawar efek samping usai meminum kopi. Seperti lambung kembung, perut mules, atau pusing.

Penyajian khas kopi seperti ini ternyata tak hanya kali ini. Melainkan telah menjadi warisan warga desa setempat secara turun temurun. Bahkan, ini juga telah menjadi budaya warga Desa Banjar yang tak terpisahkan setiap kali akan melakukan aktivitas pagi. “Hingga kini kami pertahankan, karena ini juga bagian dari budaya warga sini. Ke depan konsep semacam ini menjadi bagian promosi wisata daerah kami,” jelasnya.

Osing Culture Festival 2017, lanjut Yitno tidak hanya menampilkan Sego Lemeng dan Kopi Uthek, tetapi juga berbagai macam kegiatan budaya yang ada di Desa Banjar. Seperti tradisi “Mepe Sarung” dipadu dengan musik etnik Banyuwangi yang akan berkolaborasi dengan musisi jazz terkenal di Indonesia, serta dihadiri  Bupati Banyuwangi. Di dalam salah satu acara festival nantinya juga akan diadakan  launching website Desa Banjar yang akan menjadi pintu bagi dunia untuk mengenal desa ini.

Agenda Osing Culture Festival 2017 mengambil lokasi di Dusun Putuk dan Dusun Krajan, 8 dan 9 Juli 2017. Mereka mentargetkan pengunjung dari masyarakat umum sekitar Kecamatan Licin, wisatawan domestik maupun mancanegara yang sedang melakukan perjalanan ke Kawah Ijen. Lalu, para pelaku pariwisata di Banyuwangi dan pengusaha di bidang pariwisata. Bisa dibayangkan betapa meriahnya acara Osing Creative Festival ini. “Even ini juga menyuguhkan trekking sadap nira (bahan gula merah) dan menunjukan cara pembuatan gula aren merah yang menjadi ciri khas Desa Banjar. Juga bagaimana membuat sego lemeng dan kopi uthek,” pungkasnya. (wid)

Nasbung Sambal Ijo … Murah, Omzetnya Melimpah

0
Warung nasbung "Bu Poer" yang menawarkan aneka menu. (foto/BB/wid)

JANGAN remehkan pendapatan dari berjualan nasi bungkus (nasbung). Seperti, nasbung sambal ijo andalan warung “Bu Poer” di Jalan PB Sudirman, utara simpang lima Banyuwangi. Nasbung buatannya belakangan makin dikenal. Berada di pinggir jalan raya, warung ini buka mulai pukul 07.00 hingga 21.00 WIB. Tempat ini pas menjadi tempat makan. Mulai sarapan, makan siang hingga makan malam. Tempatnya yang nyaman dan bersih, cocok untuk sekadar nongkrong bersama keluarga, kerabat dan sahabat.

Beragam menu tersedia. Namun, nasbung sambal ijo yang paling laris. Harganya terjangkau, hanya Rp 5.000 per porsi. Pengunjung sudah mendapatkan nasi hangat dengan suwiran ayam goreng, sambal ijo pedas dibungkus daun pisang. Ada juga empat jenis nasi yang bisa dipilih. Mulai nasi jagung, nasi putih, nasi gurih (uduk), dan nasi merah. Cara membungkusnya unik. Dibentuk seperti gunungan atau kerucut, agar lebih mudah saat dikonsumsi.  “Jika mau tambah lauk juga boleh. Ada macam-macam mulai tahu fantasi, ikan laut, telur dadar, oseng-oseng mercon dan berbagai jenis sayuran. Harganya beda-beda, tapi sangat terjangkau,” kata Purnomowati, pemilik warung “Bu Poer” kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Perempuan yang akrab di panggil Bu Poer tersebut mengaku sudah dua tahun ini mengelola warung. Susah memiliki banyak  pelanggan tetap, termasuk wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi. “Banyak yang ke sini mulai dari orang luar kota sampai bule-bule. Ada yang makan sini, ada juga yang pesan nasi bungkus dibawa pulang. Ya, yang favorit ya nasi bungkus sambal ijo,” jelasnya. Untuk menjaga rasa menu di warungnya, Bu Poer langsung turun tangan ke dapur untuk memasak. Biasanya, dia memasak pada pagi hari untuk menu sampai siang, dan sore hari untuk menu hingga malam hari. “Biar fresh,” katanya.

Bukan hanya nasi bungkus, warungnya juga menyediakan nasi gudeg. Rasanya tidak jauh beda dengan tempat asalnya, Yogyakarta. Bu Poer mengaku sengaja memilih nasi gudeg sebagai salah satu menu andalan. Karena, suaminya asli Yogyakarta. Dia juga pernah tinggal di Yogyakarta. “Ceritanya saya ini pulang kampung karena nggak ada kegiatan, jadi ya jualan lagi. Dibuatin warung sama anak buat kesibukan,” katanya sambil tersenyum.

Bu Poer merintis warung nasi bungkus sejak tahun 1987. Saat itu, perempuan yang hobi memasak tersebut menerima pesanan katering dari beberapa pabrik di Banyuwangi. Pada tahun 1995, dia berjualan menggunakan mobil yang dimodifikasi menjadi seperti warung. Sehingga, bisa jualan keliling di wilayah kota Banyuwangi.

“Waktu itu mobil nganggur di rumah, akhirnya saya rombak semuanya. Bagian belakang bisa dibuka dan dibuat meja dikasih kursi. Saya masak sendiri, saya sopiri sendiri. Waktu itu masih belum ada yang jualan pakai mobil. Saya berangkat jam 9 dan jualan di depan bank, terus pindah lagi dan itu berjalan hingga 2 tahun. Tahun 1997 saya pindah ke Yogyakarta,” kenangnya. Di kota pelajar tersebut, dia kembali mencoba peruntungan dengan berjualan nasi bungkus. Menyewa warung kecil di dekat Atmajaya, tepatnya di Jalan Merican.

Ia menjual sego penyet khas Banyuwangi. Tidak disangka, warung tersebut berkembang pesat, hingga memiliki enam cabang di Yogyakarta. Jumlah karyawan mencapai 100 orang.
“Saat reformasi, tepat di depan warung saya ada demo dan ada yang meninggal. Namanya Moses Gatotkaca. Sejak itu jalan depan warung saya diganti namanya dengan Jalan Moses dan warung saya sempat pindah ke Kaliurang,” kenangnya lagi.

Hingga saat ini, ada empat warung sego penyetan khas Banyuwangi yang dimilikinya di Yogyakarta, dikelola oleh anaknya. Tahun 2013, dia memilih pulang ke kampung ke Banyuwangi. Lalu, kembali berjualan menggunakan mobil di wilayah Pantai Boom. Karena langganannya semakin banyak, ia kemudian memilih berjualan di warung dan menetap. “Anak saya yang buatkan warung ini. Katanya buat hiburan saya di Banyuwangi dan nggak nyangka warungnya juga ramai seperti yang ada di Yogyakarta,” katanya.

Dijelaskan, niatnya membuka warung bukan sekadar mencari uang. Di warung tersebut, dia  mengaku bisa bertemu dan bersilaturahmi dengan banyak orang. “Usia saya sudah masuk usia pensiun, tapi nggak mau kalau diam saja di rumah. Di sini kan bisa masak, bisa ngobrol dengan banyak orang, jadi lebih senang saja,” ujarnya. Yang istimewa, setiap Februari, dalam satu hari, semua semua penghasilan yang didapatkan di warung tersebut disumbangkan untuk anak yatim piatu, serta orang yang tidak mampu. “Biar berkah dan semua orang bisa ikut senang,” pungkasnya. (wid)

Desa Temuguruh Populerkan Tradisi Seribu Ketupat

0
Warga mengikuti festival seribu ketupat. (foto/BB/tin)

DESA-DESA di Banyuwangi banyak menyimpan tradisi unik untuk merayakan Lebaran. Desa Temuguruh, Kecamatan Sempu salah satunya. Desa ini mempopulerkan festival seribu ketupat untuk merayakan Idul Fitri. Kegiatan ini sebagai ajang promosi potensi pariwisata di desa setempat.  Seperti apa prosesinya ?

Desa Temuguruh dengan luas 2.930 hektar persegi ini terbagi lima dusun, yakni Dusun Krajan Wetan, Krajan Kulon, Tojo Lor, Tojo Kidul dan Purwodadi. Masuk desa ini berbagai tanaman pertanian terlihat tumbuh subur. Hal ini karena kondisi alam desa yang subur, sangat mendukung berbagai tanaman pangan dikembangkan. Selain padi, warga menanam berbagai jenis palawija.

Selain di sektor pertanian, berbagai Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tumbuh subur. Salah satunya, usaha pembuatan kerupuk ikan,banyak  tersebar di Dusun Krajan Kulon dan Dusun Krajan Wetan. Sementara itu, usaha gula merah banyak ditekuni warga Dusun Tojo Lor dan Tojo Kidul. Sedangkan warga Dusun Purwodadi lebih banyak bekerja sebagai penyadap getah pinus. Mengingat, sebagian wilayah Dusun Purwodadi masuk kawasan hutan pinus.

Berbagai prestasi sempat diraih Desa Temugurh. Diantaranya, Juara Harapan II  Lomba Video Kreatif 2016, dan Juara II Lomba Perpustakaan Se-Kabupaten Banyuwangi, tahun 2016.

Sejarah Desa Temuguruh tak lepas dari zaman penjajahan Belanda. Dahulu banyak para pejuang yang mengungsi ke daerah di kaki Gunung Raung, tepatnya sebelah barat Banyuwangi ini. Konon, tempat tersebut dijadikan perlindungan dari kejaran tentara Belanda. Karena, area tersebut memiliki medan berat berupa hutan belantara dan pegunungan. Diyakini, dari sekian banyak pejuang, dahulunya mereka saudara seperguruan yang bertemu kembali. Ketiga orang tersebut adalah Mbah Mangku, yang makamnya di Desa Gendoh, Mbah Jayeng,  makamnya di Dusun Purwodadi, Desa Temuguruh dan Mbah H .Yusuf yang makamnya di Gumuksari, Sempu.

Terkait nama Desa Temuguruh, terdapat dua versi yang berkembang di masyarakat. Versi pertama, nama Temuruguh diambil dari dua kata, temu dan guruh. Temu bermakna pertemuan, guruh yang berarti para guru. Sementara versi kedua menyebutkan temu yang berarti pertemuan dan guruh, yang dimaknai guntur atau petir.

Saat ini, jumlah penduduknya 11.000 jiwa. Mayoritas warga desa terdiri dari tiga suku seperti Suku Jawa, Using dan Madura. Warga hidup rukun dan berdampingan satu sama lain. Berbagai jenis kesenian pun dilestarikan warga. Seperti kesenian hadrah dan seni jaranan.

Berbagai tradisi juga digelar warga desa ini. Salah satunya kegiatan santunan anak yatim tiap 10 Muharram. Kegiatan ini digelar tiap dusun. Ada juga tradisi Suroan yang rutin digelar warga tiap Suro. Yakni, tradisi Suroan dengan pagelaran wayang kulit serta tradisi nyekar ke Makam Jojo Purwodadi di Dusun Tojo Kidul.

Tradisi paling menarik adalah tradisi seribu ketupat. Prosesinya, sejak pagi, masyarakat desa tumpah ruah di kawasan lapangan desa setempat. Berbagai model tumpeng ketupat hasil kreativitas warga dipamerkan. Selanjutnya, tumpeng ketupat tersebut diarak beramai-ramai, diiringi suara tetabuhan alat musik hadrah dan kesenian daerah. Sesampai di kantor desa digelar doa bersama. Selanjutnya warga menyantapnya bersama-sama.

Menurut Kepala Desa Temuguruh Asmuni S.P, festival 1.000 Ketupat merupakan puncak acara dari serangkaian acara dalam Gerebek 1 Syawal 1438 H. “Ini merupakan ajang Ukhuwah Islamiah sebagai wujud kebersamaan umat beragama,” ucapnya kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Sebelumnya, acara diawali dengan berbagai lomba. Yakni, Lomba Dai Kecil (Dacil), Lomba Kaligrafi dan Lomba Tartil Quran pada pertengahan Ramadan. Selanjutnya, pada Lebaran H +7, digelar Festival 1.000 Ketupat. Selain arak-arakan ketupat, dimeriahkan dengan kegiatan bazar, pengajian dan halal bihalal.

Menurut Asmuni antusias warga mengikuti acara ini sangat tinggi. Sejak satu hari sebelumnya, warga sibuk membuat ketupat serta lepet dan merangkainya. Hasil tumpeng warga yang paling kreatif diberikan hadiah dan piala. Asmuni mengatakan acara ini baru pertama kalinya digelar. Dia berharap ke depan bisa menjadi agenda tahunan. (tin)

Terkenal dengan Pelasan Uling

SELAIN tradisi, Desa Temuguruh juga kaya kuliner. Datang ke desa ini, rasanya belum lengkap tanpa menikmati kuliner khasnya. Yakni pelasan Uling. Sajian ini bisa ditemui di Stan Warung Bumdes, di Jalan Sultan Agung. Menurut Jaenuri, Ketua Bumdes setempat, menu pelasan uling ini sudah ada sejak lama. Hanya, belakangan makin diburu.

Diakui, selain rasanya, pelasan uling ini banyak diburu karena khasiatnya. Rasa pelasan uling di kawasan ini dijamin berbeda. Yakni pedas manis. Menurut Prihatini, sang juru masak, pelasan uling di warung Bumdes ini memiliki rasa beda, dengan teknik pengolahan serta bumbu yang beda. Salah satu bahan dasar yang digunakan asam dan daun jeruk, sehingga pelasan tanpa bau amis.

Permintaan pelasan uling ini datang berbagai daerah. Seperti Banyuwangi, Genteng, Glenmore hingga Surabaya dan Bali. Bahkan, kata Jaenuri tiap ada tamu dari luar daerah jika datang ke desa ini kerap berburu pelasan uling. Per hari permintaan pelasan uling ini bisa tembus 15 -50 bungkus.  Harga per bungkus Rp 7.000 – Rp 10.000.

Selain pelasan uling, industri kerupuk berkembang di desa ini. Salah satunya, industri kerupuk ikan milik Suhaili, warga Dusun Krajan Kulon. Sudah 9 tahun, Suhaili merintis usaha ini. Dalam membuat kerupuk, dia dibantu 25 tenaga kerja. Berbagai jenis kerupuk dia buat. Selain kerupuk ikan, juga kerupuk sawi/gaplek. Usaha rumahan ini memiliki kapasitas produksi mencapai 3 kwintal perhari.

Diakui Suhaili, usaha kerupuk cukup berkembang di desa ini. Meski begitu, tak mengurangi permintaan. Bahkan pihaknya masih kualahan melayani permintaan. “Prospek usaha kerupuk sejauh ini masih sangat menjanjikan,” ucapnya. Suhaili mengaku menekuni usaha kerupuk dari modal Rp 300.000. Kini usaha kerupuk ini bisa mencetak omzet Rp 5 juta per hari. Pemasaran kerupuk ikan ini mencapai Genteng, Banyuwangi, Songgon dan Glenmore. Jika cuaca panas, proses produksi tak terkendala. Dari proses pembuatan sampai siap jual dalam keadaan sudah digoreng, perlu waktu dua hari. (tin)